Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Titik Balik Arifien Neif
HARPER'S BAZAAR INDONESIA, June 2008
Setelah lama tidak terdengar, perupa Arifien tiba-tiba muncul di National Museum of Singapura bulan April lalu. Spirit baru ditandai dengan warna - warna intens yang cerah berbagai tema menggambarkan kedalaman cinta dan pskologi hubungan manusia. Oleh Janto Wiharja

Sudah lama nama Arifien tidak terdengar. Padahalnya gaung namanya cukup akrab di antara para keloktor dan pencinta seni Indonesia. Nama pelukis yang bermukim di Jakarta ini sempat melambung di era 90-an dan karyanya pernah menjadi salah satu status simbol di kalangan kolektor maupun balai lelang. Dengan gaya lukisan yang khas dan orisinal, namanya tercatat dalam konstelasi seni rupa Indonesia. Padahal dia hanya seorang seniman otodidak. Seniman otodidak pada hakekatnya memiliki hak yang sama atau bahkan bisa memiliki kreativitas yang lebih. Lihat saja dengan karya, pelukis Vincent Van Gogh.

Kebisuan kreativitas Arifien selama ini sudah terjawab. Tanggal 25 April lalu bertempat di National Museum of Singapure, Singapura, Arifien bersama Zola Zolu Galery menggelar pameran di buka oleh Oliver Vaysset, konsuler budaya, sains dan pendidikan dari Kedutaan Prancis di Singapura.

Terinspirasi dari makna cinta dan psikologi hubungan manusia. Arifien memperlihatkan ragam artistik dengan gaya khas. Kebahagian, jenaka, skandal, perselingkuhan, perayaan, fantasi hingga drama cinta terekam melalui sejumlah lukisan yang memenuhi satu sudut ruang di National Museum of Singapore. Kenapa memilih Singapura? "Masyarakat Singapora itu terbagi - bagi dan kesadaran apresiasi seni mereka sudah lebih matang. Peminat seni di negara tersebut tidak semata - mata fokus untuk memiliki. Sebagian juga ingin menjadi pemikat seni saja. Kami juga ingin membuka cakrawala baru dengan masyarakat setempat. Dan jangan lupa bahwa orang yang ke museum betul - betul kalangan pemikat seni dari berbagai lapisan," tutur Hingkie Prasantio, pemilik Zola Zolu Gallery di Bandung.

Patut dicatat bahwa untuk berpameran disebuah museum nasional tidaklah mudah. Sejumlah standar pemilihan dan persyaratan harus memenuhi kriteria museum.tersebut. Sebuah catatan membanggakan kita semua bahwa di tengah eskalasi hiruk - pikuk seni kontemporer, National Museum of Singapore dengan interior yang super modern tersebut, Arifien dari Indonesia dan Zola Zolu Gallery lulusan untuk berpameran selama 3 hari. Pameran tersebut mendapat sambutan meriah dari kalangan peminat seni di Singapura dan beberapa kolektor Indonesia. Sebuah bukti bahwa kharisma seniman Arifien tetap berkibar di antara pecinta seni.

Apa yang membuat pelukis otodidak kelahiran Surabaya ini unik bagi kurator? Kurator pameran Jean Couteau menuliskan bahwa Arifien menambahkan kedalaman psikologi dengan subyeknya di setiap drama kehidupan privat maupun sosial. Kombinasi ini yang membuat lukisan Arifien memiliki keseriusan tersendiri di balik setiap temanya yang cenderung terlihat gampang dicerma. Intimilasi dirinya dengan subyek lukisannya adalah dua hal yang tak terpisahkan. "Setiap lukisan memiliki roh saya," kata Arifien jujur. Memang dia juga tidak terjebak dengan euforia seni kontemporer saat ini. Arifien tetap berpijak dengan gaya yang khas Arifien.

Kematangan Arifien sebagai seniman semakin terasa dengan waktu. Perjalanan karirnya menambah kedewasaan artistik serta peningkatan kualitas. "Saya menyadari tanggung jawab saya sebagai seniman dituntut untuk lebih. Saya mengutamakan kualitas dari pada kuantitas. Saya harus terus memupuk kemampuan berkesenian saya. Itu tanggung jawab moral saya dengan pecinta seni saya," tutur Arifien yang mengagumi seniman Affandi dan Sudjojono S. Pameran retrospektif kecil tersebut memperlihatkan jelas beberapa perubahan nyata dari dari karya tahun 2003 hingga tahun 2008. Warna intens yang erah menandai perubahan tersebut. Selebihnya adalah pemberian judul yang jenaka seperti Juwita Malam, Gaisha, Double Happiness, Please Dong Ah, What You Marry Me memperlihatkan adegan sosok Mao sedang melamar Marilyn Monroe dalam sebuah kamar bernuansa Oriental. Adegan melamar sebetulnya mengundang permaknaan persoalan yang lebih mendalam yaitu menyatukan persepsi antara dua kulture yang selalu berbeda yaitu 'Barat dan Timur'.

Pameran di Singapura merupakan titik balik Arifien dalam kancah seni rupa Indonesia. Dan kabar lebih gembira lagi adalah saat ini dia bersama Zola Zolu Gallery sedang mempersiapkan buku ke 2 yang rencanakanya akan di luncurkan tahun 2009. Arifien ternyata memang tidak berdiam diri, tapi dia memiliki atitude jangka panjang sebagai seniman profesional. Mengetahui kapan harus menjumpai pecinta seninya dan kapan harus mengasah berbagai persoalan untuk karya - karyanya yang unik khas Arifien


Please click the picture to view the actual article

Titik Balik Arifien Neif Titik Balik Arifien Neif