Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Ruang Transaksi Vis a Vis Ruang Apresiasi
Gatra, September 2009

Puluhan galeri, kolektor, dan perupa karya-karya "pilihan" mereka di ajang Bazaar Art Jakarta. Bukan bazar untuk publik awam?

Perupa asal Swedia, Richard Winkler, kebanjiran "tamu". Ada teman lama, kolektor minta foto bersama, hingga calon buyer yang meminta Richard menjelaskan karya patung dan lukisannya. "Saya senang, pengunjung antusias sekali", katanya.

Pada malam itu, dalam Bazaar Art Jakarta di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, yang digelar dari 28 hingga 30 Agustus, pria kelahiran Norrkoping, Swedia, 26 Juni 1969, itu memajang karya lukis dan patungnya yang sanggup menghentikan langkah para kolektor atau penikmat seni.

Patung berjudul Small Reclining Figure (bronze, 16 x 25 x 35 cm, 2008) berupa figur perempuan tengah berbaring tenang. Badannya meliuk-liuk besar dan bulat. Sepintas, agak ganjil abstraksi karya Richard ini. Tapi ia tengah merepresentasikan beragam simbol. "Saya suka kedamaian, ketenangan." kata alumnus Nyckelviken School of Arts dan Beckmans School of Design itu menerangkan karyanya.

Maka, bulat dan besar adalah presentasi kesuburan, kedamaian, dan in balance. Karya lukisnya pun bicara tema dan teknik yang sama. Morning Sun (oil on canvas, 70 x 55 cm, 2009), misalnya, mengingatkan kolektor pada pelukis Argentina, Fernando Botero.

Deformasi bentukan objek yang ganjil itu hadir lagi lewat warna-warna primer dan repetisi gaya. Melengkung dan tubuh melar, tapi menyiratkan nuansa Bali. "Karya-karyanya agak aneh ya, tapi kelihatan berkelas," ujar Pratista, seorang pengunjung.

Bagi Richard, patung adalah hal baru. "Saya baru satu tahun membuat patung," kata lelaki yang sering berpameran di kawasan Asia-Pasifik itu. Patung-patung abstrak ini sebetulnya dipersiapkan untuk pameran tunggalnya di Singapura, Oktober nanti. Tapi, "Saya dibujuk untuk ikut di bazar ini. Baiklah," tutur Richard.

Tidak sia-sia. Lima patung dan lima lukisan yang dipajangnya telah ditaksir para kolektor. "Hampir habis," kata penjaga stan. Bisa jadi, di mata kolektor, karya-karya Richard menyampaikan kecenderungan berbeda di antara kecenderungan lain yang dihadirkan 22 galeri peserta bazar lainnya.

Tengok patung karya Agapetus A. Kristiandana, In Memoriam (alumunium , 70 x 150cm, 2009). Karya ini menampilkan seekor babi betina dengan badan bermotif bendera Amerika tengah menyusui babi-babi kecil berbendera Inggris, Jepang, Israel, hingga Swiss.

Babi yang tak berdaya dan interpretasi bahwa negara-negara itu disuapi Amerika - atau sebaliknya- adalah eksekusi yang tidak baru, tapi lumayan memberi kesegaran di antara gempuran koleksi lukisan dalam pameran tersebut. Dipajang menyendiri di pintu masuk pameran, membuat sosialita yang malam itu menyemarakkan ruang pamer tergoda juga berfoto di sana.

Sejatinya, berkumpulnya galeri dan rumah lelang di satu ajang adalah hal menarik. Kemungkinan galeri akan mengeksplorasi ajang ini yang diklaim panitia akan menampilkan sajian yang kaya dan memberikan napas baru di dunia seni Indonesia rupanya tidak banyak terbukti.

Keterbatasan tempat, misalnya, menjadikan tidak adanya niat kurasi yang sungguh-sungguh dari galeri. Paling banyak, bagaimana memenuhi ruang kosong dengan beragam lukisan (ada galeri yang menjejalkan begitu banyak koleksi lukisan pada kubikal sempit). Juga tidak banyak galeri yang menghadirkan senimannya dalam pameran ini.

Padahal, dalam sebuah suasana yang kental ajang jual-beli macam ini, penting sekali kolektor atau calon pembeli mendapat penjelasan langsung dari artisnya. "Cuma mengandalkan katalog dan kartu nama saja nggak cukup," ujar Rusman, pengunjung yang lain.


Please click the picture to view the actual article

Ruang Transaksi Vis a Vis Ruang Apresiasi