Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Provokasi Romantis
Harper's Bazaar Indonesia, Bazaar Art, September 2010
Andai saja Arifien Neif benar-benar menjadi seorang psikiater, akankah kita dapat menikmati lukisan yang begitu indah sekaligus mengandung kompleksitas yang menyihir seperti lukisannya?

Rumah yang kami datangi itu tersembunyi di balik pepohonan yang rindang dan tanah yang berkontur. Seperti umumnya rumah-rumah di daerah selatan Jakarta yang memiliki lahan yang luas dan kondisi tanah yang (masih) baik, ruang terbuka dan vegetasi lebih dominan di sini. Rumah utama terletak di bagian tertinggi, dan persis di seberangnya terdapat pendopo yang luas dan sejuk. Kami sempat salah masuk ke bagian yang terletak lebih di ‘belakang’, di mana terdapat bangunan yang baru mulai didirikan. “Tempat ini nantinya akan dijadikan ‘rumah’ bagi komunitas seni. Segala kegiatan kreatif yang berhubungan dengan art akan saya rintis di sini. Nantinya akan ada museum seni rupa, grafis, patung, exhibition hall, teater, dan semua fasilitas umum untuk kegiatan kesenian,” ujar Arifien Neif, sang pemilik rumah, yang siang itu sedang mempersiapkan lukisan untuk dipamerkan di Bazaar Art Jakarta 2010.

Kami berbincang di ‘studio’ Iukisnya yang tidak seperti studio lukis biasa. Tempat itu berbentuk ruang penerima yang terbuka, dilengkapi dengan meja kursi untuk tamu serta meja kursi tinggi seperti di bar, lemari buku model kuno, dinaungi atap yang desainnya menyerupai bangunan tradisional Thailand, dengan tirai bambu dan lantai batu alam. Di sinilah seniman yang lahir tahun 1955 ini menghabiskan waktunya setiap hari mulai dari jam 8 pagi hingga 5 sore untuk melukis. “Bagi saya, there’s no such thing as waiting for the mood to come. Mood itu adalah sesuatu yang membantu saya dan tempatnya berada di dekat saya. Dialah yang menunggu saya, bukan saya yang menunggu dia. Perbedaan antara sedang tidak ada mood dan malas itu sangat tipis. Jadi saya tidak mau terjebak dengan ‘klaim’ tidak bisa melukis karena sedang tidak ada mood, padahal sebenarnya malas. Sebagai seniman, saya juga harus disiplin,” jelas Arifien ditingkahi dengan senandung lagu latin jazz yang dibawakan oleh musisi asal Kuba, Perez Prado.

Kedisiplinan memang telah meresap di dalam dirinya sejak Arifien masih sangat muda. Berbagai review dan artikel tentang karya dan perjalanan kariemya menuliskan betapa self taught artist ini bekerja keras tanpa meragukan apa yang dijalaninya dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Untuk menjadi seperti sekarang ini, Arifien menjalani segala yang dibutuhkan untuk mencapai apa yang diimpikannya. “Saya termasuk orang yang beruntung, karena sejak kecil sudah tahu tujuan saya hidup di dunia ini. Setiap hari impian tersebut saya catat, saya gambar, dan saya sampaikan kepada orang lain di berbagai tempat dan kesempatan. Semua itu adalah doa, dalam rangka menuju impian saya,” begitu paparnya sambil bercerita tentang masa kecilnya.

Arifien kecil menemukan melukis sebagai caranya menuangkan emosi. Sebelumnya, dialog tersebut dilakukannya dengan sebuah pohon besar di alun-alun kota tempat ia tumbuh remaja. Kepada pohon yang bagi Arifien adalah representasi dari Yang Maha Kuasa, dia mengeluarkan isi hatinya. Namun, setelah keberadaan pohon tersebut digantikan dengan pom bensin, Arifien kecil yang kehilangan sarana komunikasi akhirnya menumpahkannya dengan melukis. Sayangnya, orang tuanya tidak terlalu menyukai kebiasaan tersebut. “Tapi, semakin dilarang justru semakin menjadi-jadi. Akhirnya, walaupun dengan diam-diam, menggambar menjadi pilihan saya untuk mengekspresikan perasaan,” ujarnya.

Tanpa bimbingan siapa pun maupun pendidikan formal, serta sambil bekerja, Arifien terus melukis dan tidak pernah sedetik pun melupakan cita-citanya. Perpustakaan di pusat kebudayaan Jepang dan Prancis menjadi tempatnya mengasah pengetahuan dan mempertajam selera. Matisse dan Picasso turut menginspirasi dirinya. Dan lahirlah karya-karya yang sangat ekspresif, memiliki cerita yang sederhana namun memancing imajinasi dan pemahaman yang dalam. Selain itu, kebanyakan figur yang dilukisnya berada dalam setting ruangan atau interior yang dibuat secara detail. Tidak heran, karena Arifien pernah bekerja sebagai kontraktor interior. Bahkan, seluruh bangunan rumahnya ini pun dirancang sendiri olehnya.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa pria yang terlihat fit ini memiliki passion yang lain. “Kalau orang tua saya dulu bisa membiayai, sebenarnya saya ingin jadi psikiater. Saya suka mempelajari tentang penyimpangan perilaku dan mengamati sifat orang,” ujarnya lagi. Koleksi buku psikiatrinya hampir menyaingi koleksi buku tentang seni. Bahkan dia pernah melakukan observasi terhadap seorang penghuni RSJ Sumber Waras secara rutin selama beberapa lama. “Saya catat grafik emosinya, seberapa besar intensitas ketidaksehatannya. Lalu saya buat evaluasi dan saya pelajari. Dari situ saya membuat potongan-potongan ide untuk dituangkan ke atas kanvas.” Sebuah sumber inspirasi yang sangat kompleks, namun dijamin sangat emosional pula.

ltulah sebabnya di tahun 1980-an, lukisan Arifien terlihat lebih ‘gelap’ karena dia banyak menggarap tentang kejiwaan, juga tentang sorga dan neraka. Bukan hanya objeknya yang ‘gelap’, juga warna-warnanya. “Dulu saya tidak punya cukup uang untuk membeli berbagai macam warna, jadi yang saya beli warna favorit saja. Dan saat itu jangka waktu untuk membuat satu lukisan tidak saya perhitungkan. Malahan melewati proses yang cukup panjang: dari bagus, lalu karena tidak puas saya teruskan dan malah jadi tidak bagus, lalu jadi bagus lagi, dan jadi jelek lagi. Satu lukisan bisa mengalami lima tingkat perbaikan. Hasilnya cenderung gelap karena warnanya ditumpuk-tumpuk. Tapi kekuatannya luar biasa,” ujarnya sambil menunjukan satu-satunya lukisan dari ‘dark era’ yang berhasil diperolehnya kembali dari pemiliknya. Sebuah lukisan yang kecil, namun berhasil menyedot kita ke dalamnya, ke dalam perasaan Arifien saat membuatnya.Sayangnya, karakter yang ‘gelap’ dengan kompleksitas yang tinggi seperti itu kurang bisa diterima pada zamannya. Perubahan terjadi pada tahun 1990-an saat Arifien lebih banyak menggarap tema cinta. Cinta dalam warna-warna yang atraktif, naif, dan kadang sensual. Melihat lukisan Arifien saat ini bagaikan sebuah penyegaran di belantara kontemporer. ‘Rahasia’ Arifien adalah karena ia menjadikan lukisannya mempunyai ‘misi’. “Setiap lukisan punya tugas spesifik, untuk menjadi sesuatu bagi seseorang, mempengaruhi ruangan atau bahkan kehidupan orang tersebut. Saya di sini adalah seniman kreatif yang melayani kebutuhan masyarakat. Saya harus tahu kondisi psikologis mereka. Kalau tidak, maka komunikasinya tidak akan nyambung. Jika saya mempelajari seperti apa karakter masyarakat, maka saya bisa membuat suatu suguhan yang relevan dengan keseharian mereka,” paparnya. Mungkin itulah sebabnya saat melihat karyanya kita merasa mempunyai koneksi dengan objek Iukisannya. Bagaikan melihat potongan kehidupan kita di dalamnya. Perasaan yang menyihir dan membuat kita enggan berpaling dari lukisannya.

Saat ini, Arifien sedang mengeksplorasi sebuah ‘bentuk’ baru untuk karya-karya selanjutnya, dan Bazaar beruntung bisa menyaksikannya sebelum lukisan Harajuku Girl dan Madhuri Dixit yang Anda lihat di sini dipamerkan di hadapan khalayak. “Sebetulnya ini adalah pemberontakan, dan inilah garis yang saya inginkan, yaitu lebih bebas. Saya ingin garis ini nantinya menjadi pola dari lukisan-lukisan saya berikutnya,” jelasnya. Dan khalayak jelas menantikannya. (Febe R. Siahaan)


Please click the picture to view the actual article

Provokasi Romantis Provokasi Romantis