Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Perlawanan Richard Winkler
Kompas, Minggu, 11 Juli 2010

Sebagai perancang kehidupan, Richard Winkler (41) sudah mapan di Swedia. Tetapi kecintaan pada alam tropis membuat ia mengambil keputusan frontal: memilih tinggal di Ubud, Bali, tahun 1997 dan meneruskan profesinya sebagai pelukis.

Itulah perlawanan pertama Richard Winkler dalam hidupnya. Pameran tunggalnya yang kesepuluh dalam kariernya sebagai pelukis, 2-6 Juli 2010 di Zola Zolu Gal1ery Bandung, Jawa Barat, bisa dicatat sebagai perlawanan berikutnya. Ia menyatakan melawan terhadap propaganda reklame, bahwa yang cantik dan seksi itu selalu ramping. Propaganda itulah simpul utama bagi tumbuhnya industri kecantikan dan keseksian.

Karya-karya Richard berada pada titik berlawanan. Ia menampilkan sosok-sosok manusia, terutama perempuan, dalam gambaran yang serba besar, padat, penuh, sehingga terlihat gemuk. Gambaran-gambaran ini sebenarnya menjadi semacam simpul interpretasi dirinya terhadap kesuburan alam tropis. "Apa saja ditanam di sini (tropis) Iangsung tumbuh. Bahkan sebatang kayu yang dibuang bisa tumbuh," ujar Richard.

Karya Richard sering kali dihubung-hubungkan dengan beberapa nama maestro yang mendahuluinya. Ketika melihat sosok gemuk itu, orang dengan mudah menyebut nama Fernando Botero, pelukis Kolombia yang terkenal dengan manusia gendutnya. Lalu, Ianskap alam tropis khas Bali yang direkam Richard diparalelkan dengan karya-karya Walter Spies. Terakhir patung-patung karya Richard dianggap memiliki kemiripan dengan karya-karya Henry Moore.

Menurut Richard, setiap seniman modem pasti mengetahui seluruh karya besar yang dicatat dalam sejarah seni dunia. Dan karena itulah orang "harus" selalu mencari acuan pada sejarah ketika melihat sebuah karya baru lahir. "Sosok dalam karya saya tidak gemuk, tetapi saya mengeksplorasi garis-garis lengkung," tutur Richard.

Orisinalitas
Ketika surealisme muncul untuk mewadahi impian seorang seniman, maka pembabakan sejarah seni seperti berulang. Perdebatan soal orisinalitas karya bergeser dari bentuk menuju karya-karya tematis. Ketika kita berusaha mencari acuan atas bentuk karya-karya Richard, maka narna-nama Fernando Botero, Walter Spies, dan Henry Moore senantiasa akan muncul.

Orisinalitas pada Richard, dan ini yang membuat karyanya menjadi penting dibicarakan, terletak pada tema. Ia seorang Barat (Swedia), yang kecintaannya begitu mendalam pada tumbuhan tropis. Maka itu, unsur-unsur tumbuhan seperti daun dan buah begitu banyak mewarnai karya-karyanya.

Unsur itu misalnya muncul dalam Bathers in Munduk, People of The Paddies, Fruits of Prosperity, Fruitseller in Karangasem, Heading Home from The River, Morning in The Paddies, Pregnant Woman With Fruit Basket, Pregnant Woman, Temple Ceremony, Garden of Fertility, Traditional Fruit Market, serta beberapa karya lainnya. "Saya mengagumi sesuatu yang tumbuh," ujar Richard.

Tema karya-karya ini bisa jadi sudah banyak dijajal oleh para pengagum alam tropis pendahulu Richard seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, atau Arie Smit. Semuanya orang-orang Barat yang mencari "pencerahan", terutama karena kekayaan sinar matahari, di dunia Timur. Dengan begitu, Timur diletakkan sebagai eksotika yang merangsang kreativitas.

"Pohon kelapa itu eksotik buat saya," tutur Richard. Harus diakui perupa kelahiran Norrkoping Swedia, ini memang salah satu pemuja eksotika Timur. Tetapi eksotika itu, dalam diri Richard tumbuh seperti pohon. Benih belum tentu memiliki keserupaan dengan pohon besar. Sosok-sosok perempuan besar dalam karya Richard hadir sebagai simbolisme dan kesuburan. Padahal, ia ditanam dari benih eksotisme yang sama sebagaimana dilakukan oleh Spies dan Smit.

Tumbuh itu pulalah yang menjadi alasan Richard mengapa ia selalu memancangkan kaki atau tangan para tokohnya ke dalam tanah. "Karena manusia itu juga tumbuh seperti pohon," katanya. Dan tanah di daerah tropis adalah berkah alam yang harus terus-menerus dirayakan.

Ketika memutuskan untuk meninggalkan Eropa dengan segala kemapanan hidupnya, Richard sebenarnya sedang merayakan kesuburan itu. Ia mengaku sama sekali tidak memiliki referensi tentang gelombang kedatangan para seniman Barat ke Bali untuk mengejar matahari. Ia hanya mengikuti kecintaannya yang mendalam tentang fertility (kesuburan). "Dan itu hanya mungkin terjadi di daerah tropis. Maka saya datang ke Sri Lanka dan kemudian kemudian menetap di Bali," ceritanya.

Pada saat sosok-sosok yang diciptakan Richard terlihat gemuk karena kesuburannya, di situ sekaligus ia memberi tahu kita bahwa gemuk dan besar itu juga seksi....


Please click the picture to view the actual article

Perlawanan Richard Winkler