Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Pasar di Atas Kanvas
KHAZANAH - Pikiran Rakyat, 12 April 2008
EMPAT orang nenek asyik bercakap - cakap di tengah pasar sambil menunggui dagangan mereka. Pasar sudah lengang, agaknya sore hari, dan karena itu mereka tampak santai. Entah apa yang sedang diperbincangkan, tapi agaknya sesuatu yang menarik.

SALAH seorang sedang berbicara pada teman disebelahnya dengan suara perlahan. Nenek disebelahnya mendengarkan sambil memangku seorang anak lelaki yang mungkin cucunya. Keduanya menjadi duduk berdampingan dan menjadi "pusat" dari perbincangan itu. Dua orang nenek lain memperhatikan mereka dalam bahasa dan ekspresi tubuh yang berbeda. Seorang nenek mendengarkan sambil menatap lekat - lekat, sedang nenek yang lain menatap dan mendengarkan sambil bertopang dagu.

Di tengah perbincangan keempat nenek yang membentuk setengah lingkaran itu seorang anak lelaki berdiri. Mungkin ia sedang memeragakan sebuah mainan pada anak lelaki yang duduk diatas pangkuan neneknya yang tampak asyik memerhatikan.

Seperti keempat nenek itu, kedua anak lelaki tersebut juga sedang asyik dengan dunia mereka. Empat orang nenek dan dua anak lelaki itu terlihat membangun dunianya masing-masing. Dan mereka dikelilingi oleh keranjang - keranjang yang berisi buah-buahan, seperti tomat dan pisang. Keranjang-keranjang itu tak hanya terlihat ada dihadapan mereka, tapi juga menyebar, tersusun, dan teronggok begitu saja. Kecuali enam orang dan keasyikan dua generasi dengan dunianya masing - masing, tak ada siapa pun diantara mereka, termasuk pembeli.

Suasana tampak lengang, tak ada keramaian lazimnya sebuah pasar kecuali jejak - jejaknya yang terlihat dari posisi keranjang. Mungkin fragmen percakapan itu terjadi di sudut sebuah pasar, di suatu sore.

"Pasar Tradisional" inilah judul lukisan karya Teddy Priyono yang secara kuat memamerkan penguasaannya yang fasih pada eksplorasi penghadiran bentuk realis yang diluluhkan kedalam suasana tematik yang dibidiknya. Di atas kanvas 70 cm x 90 cm, pelukis Salatiga Jawa Tengah yang pernah menjadi tukang gambar poster film ini menghadirkan sebuah fragmen yang unik dalam berbagai aktivitas yang terjadi di pasar tradisional. Ia tak membidik suasana masif suasana pasar dengan keriuhan transaksi dan kesibukan didalamnya, melainkan suasana "kecil" perbicangan antar pedagang dan keluarganya. Keakraban interaksi memang menjadi roh suasana dalam pasar tradisional. Tak hanya antar pembeli dan pedagang, juga keakraban diantara para pedagang, seperti yang dihadirkan oleh Teddy Priyono.

Di atas kanvas pelukis yang sempat hidup dari hasil menjajakan karya-karya ke berbagai galeri di Ubud Bali ini, Pasar Tradisional hadir dalam corak realis yang bertumpu pada estetika bentuk, komposisi dan suasana. Pada yang pertama, bentuk tak melulu mengosentrasikan dirinya pada detail, melainkan juga terasa adanya rangsangan kearah berbagai bayangan. Empat orang nenek tampak dihadirkan dengan masing - masing ekspresi dan bahasa tubuhnya dalam perbincangan yang mengasyikkan tersebut sehingga merangsang bayangan dugaan pada apa yang mereka perbincangkan.

Demikian pula dengan penciptaan komposisi yang memusat pada mereka di tengah sebaran keranjang. Namun, satu hal yang tak kalah menarik dalam karya ini adalah bagaimana Teddy Priyono membangun menegaskan suasana lewat olahan pewarnaan. Warna sephia yang dominan menciptakan bayangan ihwal suasana sore hari, berkolerasi dengan kelengangan, yang seolah juga hendak menjadi metafora dari keempat nenek yang menjadi objeknya.

Aktivitas Pasar Tradisional

Kanvas Teddy Priyono adalah kanvas yang merekam berbagai denyut aktivitas manusia di pasar tradisional. Inilah yang akan diusung Teddy Priyono dalam pameran tunggalnya di Drawing Gallery Paragon Singapura, 3 Mei 2008. Tema yang diusung Teddy Priyono ini menarik karena paling tidak, diatas kanvasnya, pasar tradisional itu hadir untuk mengungkap banyak ihwal, termasuk bagaimana pasar tradisional senantiasa memperlihatkan sebuah pemandangan ritus sosial yang berlangsung dalam ruang terbuka. Didalamnya, interaksi manusia berlangsung sebagai peristiwa transaksi yang itu tidak melulu jual beli, melainkan juga transaksi sosial dalam keakraban masyarakat komunal.

Seperti banyak ditemukan dalam lukisan-lukisan yang bertemakan pasar tradisional, sebutlah, dalam karya Dullah, Otto Swastika, atau dalam sketsa - sketsa Ipe Ma'ruf, hingga lukisan - lukisan tradisi Bali, di atas kanvas Teddy Priyono, pasar tradisional berlangsung di sebuah ruang terbuka. Tak ada lapak, kios, atau jongko, sebagaimana umumnya kita temukan di pasar tradisional di perkotaan. Seperti tampak dalam "Anak Kecil di Tengah Pasar", "Aktivitas", "Wishes", dan "Green Leaves", keranjang - keranjang dagangan diletakkan begitu saja di atas tanah. Para pedagang itupun tidak tampak berderet rapi, melainkan menyebar secara acak yang menyiratkan keleluasaan ruang serta gerak. Seperti para pedagang, pembeli menyebar dalam sebuah keramaian.

Pasar tradisional dalam ruang terbuka semacam ini, dengan sebaran para pedagang dan pembeli, juga menciptakan tubuh yang leluasa. Tubuh yang mencangkung dan menungging, yang seolah menjadi metafora dari keakraban mereka pada tanah. Ini tampak, misalnya, dalam "Anak Kecil di Tengah Pasar". Lukisan ini menghadirkan pemandangan yang ramai di sebuah pasar tradisional. Tampak beberapa pedagang tengah merapikan dagangannya, sementara salah seorang yang lain sedang bertopang dagu. Di kejauhan, sebagai latar, orang-orang bergerak dalam berbagai aktivitas. Transaksi di situ terjadi sebagai sebuah ritus sosial yang akrab dan hangat.

Satu hal yang melainkan pasar tradisional diatas kanvas Teddy Priyono di tengah banyaknya tema semacam ini dalam seni lukis Indonesia adalah kefasihannya dalam menghadirkan berbagai pose objek. Teddy Priyono tampak tak hanya membidik objek dalam peristiwa transaksi jual beli, tapi juga mereka yang sedang termangu atau menatap ke sebuah arah dengan ekspresi yang khas para pedagang, menunggu dan berharap.

Pasar tradisional di atas kanvas Teddy Priyono adalah ruang publik yang berjenis. Dalam seluruh karyanya itu, nyaris tak ada jenis kelamin lain di pasar tradisional kecuali perempuan - jika pun ada itu anak lelaki yang sedang digendong atau dipangku. Tak ada kuli angkut apalagi pembeli atau pedagang lelaki dalam karya - karyanya. Seluruh pelaku di pasar tradisional itu adalah perempuan. Dalam konteks inilah, Teddy Priyono seolah sedang menegaskan sebuah gagasan kesadaran bahwa pasar tradisional adalah ruang yang tak ubahnya dengan dapur itu sendiri, sebuah ruang yang senantiasa menjadi milik perempuan, ruang yang berjenis kelamin. (Ahda Imran)***


Please click the picture to view the actual article

Pasar di Atas Kanvas