Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Nyanyian Cinta Arifin Neif

Seputar Indonesia
, 5 Agustus 2012

PAMERAN Lukisan Zola Zolu Gallery yang digelar di Ritz Carlton Ballroom, Jakarta, salah satunya menghadirkan koleksi terbatas dari pelukis Arifin Neif. Tema cinta diusung dari inspirasi sebuah lirik lagu.

Lukisan perempuan dengan tubuh gendut, nampak menutupi muka dengan kelambu. Ada rona merah di pipinya, hingga kemudian dia menutupi sebagian mukanya. Ia duduk di pinggir ranjang sendirian. Dengan baju tidur setengah tersingkap. Sosok wanita ini menggambarkan sebuah kondisi di mana dia sedang dilanda sepi.

Lalu,ada juga sebuah lukisan perayaan pasta pemikahan yang cukup megah. Para wanita dibagian depan lukisan tengah berjoget bersama. Mereka tertawa, mengumbar kegembiraan. Menari seolah berlomba siapa yang terbaik, dandanan siapa yang gemerlap layaknya ketika menghadiri sebuah pesta-pesta sosialita.

Sementara, laki-laki berseragam tradisional berdiri di belakang membuat pagar. Ada juga laki-laki lain masih dengan pakaian pesta tengah memperhatikan para wanita-wanita itu berjoget.

Dua lukisan itu memang nampak bertolak belakang. Yang satu tengah berada dalam kesendirian, sementara satu lukisan yang berukuran lebih besar sedang memamerkan sebuah keramaian. Lukisan pertama berjudul Crazy He Call Me, di mana seorang perempuan tengah tersipu karena sebuah panggilan telepon, sedangkan satu lukisan berjudul Fortune menggambarkan gemerlap sebuah pesta. Namun, keduanya sama-sama tengah berada dalam kondisi bahagia.

Arifin Neil menghadirkan lukisan itu dengan gaya lukisan naif. Arifin sendiri menyebutnya dengan genre organic art. Karena menurut Arifin,dalam berkarya la masih memakai cara-cara tradisional, seperti mengolah warna, kesabaran, ketelatenan, keindahan dan tidak memakai teknologi dalam mengolah karya.

"Saya lebih suka menyebutnya dengan organic art," tegas Arifin Neif kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu.

Atas kesabaran, ketelatenan dan tetap memakai unsur keindahan dalam lukisan-lukisannya ini, Arifin pada akhirnya memang manuai hasil dari karyanya dengan apresiasi terhadap harga jual lukisan-lukisan.

Harga lukisan Crazy He Call Me misalnya. Lukisan ini dibanderol dengan harga Rp 350.000.000.Sedangkan untuk lukisan Fortune yang berukuran 200x320 cm, dia mematok harga Rp 1,5 miliar. Sebuah harga yang pantas untuk sebuah lukisan dengan detil dan gagasan-gagasan yang kuat di dalamnya. Dan dalam pameran ini, lukisan-lukisan Arifin Neif terjual semuanya.

Bicara tentang gagasan, Arifin Neil memang membuat lukisan layaknya sebuah film. Ada skenario yang ia tuangkan dalam sebuah buku, sebelum kemudian dia melakukan aktivitas melukis. Ia membubuhkan ide-ide itu ke dalam buku.

Ide, biasa Arifin dapatkan dimana saja. Ketika dia makan di kedai Tiffany misalnya, sebuah lukisan dengan judul Breakfast at Tiffany's muncul dengan gambaran seorang perempuan kaya tengah duduk. Anjing kecil menyertai karakter perempuan dalam objek lukisannya.

Namun, menurut Arifin, gagasan yang kerap muncul justru dari sebuah lirik lagu. Lagu-lagu lama dari penyanyi Barat,kerap didendangkannya. Dendang lagu-lagu dengan lirik yang kadang romantik kadang sendu itu kemudian munculdalam lukisan-lukisannya.

Seperti dalam karya lukis Jealousy. Arifin mengaku, lukisan tersebut bermula dari sebuah lirik lagu yang tengah ia dendangkan. Ada kecemburuan, ada rasa yang sukar dipahami antara laki-laki dan perempuan. Dari sini lah, kemudian muncul ide lukisan suami istri yang saling marah. Satu perempuan, duduk menatap jendela, sedangkan satu laki-laki tengah berdiri memandang sang perempuan. Ada ungkapan emosi yang mendalam dalam likisan ini. "Saya melukis tak hanya soal percintaan samata. Kebetulan akhir-akhir ini memang saya lebih tertarik melukis dengan tema cinta," terang Arifin Neif.

Arifin Neif sendiri melukis secara autodida. Ia tak pernah belajar melukis secara akademis. Dari sini Arifin justru memiliki ciri tersendiri, karena sering kali kiblat seni rupa di Indonesia tertuju keYogyakarta dan Bandung. Tarik menarik tren seni rupa di Tanah Air dari dua kota inilah yang kemudian justru menempa Arifin Neif dalam menemukan gayanya sendiri. Arifin menyebutnya organicart.

Oleh Sofiandwi.



Please click the picture to view the actual article

Nyanyian Cinta Arifin Neif