Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Noer Dhami dan Manusia Jerami
KHAZANAH - Pikiran Rakyat
KAKI - KAKI para pengungsi itu bergerak terapung - apung di dalam air. Dalam air, kaki mereka terapung - apung dikitari ikan - ikan. Tampak beberapa sandal jepit dengan tali putus, seolah mengungkapkan putusnya semangat hidup.

Di antara ikan - ikan dan gelembung - gelembung air, kaki para pengungsi juga seperti kayuhan langkah yang berat sekaligus sia - sia. Sedang diatas permukaan air, tubuh para pengungsi itu tampak lelah. Mereka berimpitan dengan tubuh yang terbuat dari jerami. Menatap jerami yang menjadi tubuh para pengungsi ketika mereka berjalan terapung - apung dalam air seperti itu, akhirnya adalah menemukan peristiwa yang hendak menjadi sebuah metafora.

Metafora yang menekan pada gagasan ihwal nasib para petani di tengah realitas politik pembangunan yang melakukan ruang - ruang ekspansi sehingga para petani tercerabut dari ruang yang telah lama menjadi ruang identifikasi eksistensialnya.

Di hadapan politik pembangunan kota yang terus bergerak hingga ke berbagai wilayah pinggiran, para petani akhirnya menjadi para pengungsi. Mereka harus meninggalkan sawah mereka demi keperluan para pemilik modal. Para petani bergerak menyeberang, mengungsi ke ruang hidup yang lain. Dalam pengungsian inilah, separuh tubuh para petani itu terapung - apung dalam air dengan kaki yang tak menyentuh ke dasarnya. Kaki mereka terapung - apung dalam gerak yang menggapai - gapai.

Di atas kanvas Noer Dhami peristiwa memilukan itu terhampar dalam karya berjudul "Jejak Kaki Para Pengungsi". Warna air, ikan - ikan putih, sandal - sandal jepit yang putus, gelembung - gelembung udara, dan bayangan kaki para petani yang mengapung tampak hadir sebagai keindahan visual yang sekaligus menekan pada kemalangan. Seperti tubuhnya, kaki - kaki itu terbuat dari jerami. Kaki - kaki membayang dalam air dengan teknik olahan bentuk yang penuh perhitungan.

Terutama tak hanya dalam upaya menciptakan bentuknya sebagai bayangan, tetapi juga menciptakan struktur garis pada idiom kaki-kaki jerami sehingga secara visual ia akan menimbulkan asosiasi yang lemah dan rapuh. Sapuan warna terang dan gelap menjelaskan kedalaman air, dan di situlah sejumlah sandal jepit tenggelam.

Tentu saja dalam logika visual akan timbul pertanyaan, mengapa sandal-sandal jepit itu tenggelam, bukankah seharusnya ia mengambang di permukaan air? Soal yang agaknya hendak ditekankan Noer Dhami di situ agaknya menyaran pada sandal jepit sebagai representasi dari rakyat miskin yang dimiskinkan lagi oleh politik pembangunan kota. Pembangunan yang menenggelamkan dan memutus seluruh semangat hidup mereka. Di atas permukaan air, jerami yang menjadi tubuh para petani hadir dalam warna - warna terang. Kuning, hijau, dan ungu. Seperti pemandangan di dalam air, di atas permukaan air keindahan itu juga sekaligus menjadi demikian memilukan. Tubuh - tubuh jerami itu tampak berjalan dalam deretan yang nyaris berjejalan sambil membawa berbagai buntalan.

Idiom Jerami

"Jejak Kaki Para Pengungsi" merupakan satu dari 14 karya pelukis alumnus Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini yang akan dipamerkan di Drawing Gallery Paragon Singapura, bertajuk "Contemporary Art of Noer Dhami" pada tanggal 14 Maret - 12 April 2008 mendatang. Satu hal yang menarik dari karya - karyanya adalah eksplorasi idiomatik sejumlah figur tubuh manusia yang dilekatkan dengan jerami.

Jerami dan tubuh manusia menjadi frase visual yang unik sekaligus menekan pada eksplorasi tematik yang disasarnya. Jerami menjadi idiom kebentukan yang hendak menjelaskan betapa yang tersisa dalam tubuh para petani hanyalah tinggal jejak, yakni jerami.

Dalam karya-karya Noer Dhami, tubuh petani adalah tubuh yang ditiadakan dan dikalahkan. Dalam "The Rice Pest", tubuh itu terbaring mengerut nyaris menyerupai mayat, dengan tikus besar yang mengelilinginya. Karya ini, sekali lagi menegaskan pilihan tematik Noer Dhami, yakni realitas sosial nasib para petani. Namun, Noer Dhami tidaklah berpretensi menyelinapkan semacam spirit perlawanan atau mungkin sejenis fatwa sosial yang banyak dianut oleh sebagian seniman yang berada di ranah tematik semacam ini. Karya - karyanya lebih terkesan sebagai penghadiran atau kesaksian yang dilakukan lewat peristiwa simbolisasi.

"Saya memang berada di wilayah peristiwa semacam itu, ketika pemekaran kota membuat nasib kaum petani menjadi tidak jelas. Tukar guling tanah desa dan tanah pertanian selalu tak pernah jelas, belum lagi cara berpikir para petani yang belum siap,"ujarnya.

"Dengan manusia jerami itu, setidaknya saya ingin membuat memori tentang jejak dan ruang hidup mereka yang bisa dihubungkan dengan filosofinya, "tambahnya.

Namun, manusia jerami dalam karya-karya Noer Dhami tak hanya muncul dalam sebuah tema yang bertutur ihwal nasib petani. Dalam karyanya yang lain, manusia jerami itu juga hadir dalam penuturan realitas global seperti tampak dalam "Under Shoes".

Meski karya - karya Noer Dhami berangkat dan menampilkan berbagai realitas yang memilukan, kanvas Noer Dhami adalah kanvas dalam olahan warna yang sejuk dan enak dipandang mata. Dalam hal ini, ia seolah menghidangkan sebuah ironi, betapa seluruh realitas memilukan yang terjadi disekeliling kita hari ini memang hanya untuk dinikmati sebagai tontonan. (Ahda Imran)***


Please click the picture to view the actual article

Noer Dhami dan Manusia Jerami