Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Merayakan Kesuburan
Arti, Desember 2008
Lukisan gubahan Richard Winkler berjuluk After Moning Bath (2008, 120 x 90 cm, cat minyak di atas kanvas) yang menjadi cover Art edisi kali ini, ialah tamsil tentang bumi yang baik. Bumi adalah sumber kehidupan yang telah menyediakan makanan sekaligus tempat untuk melangsungkan kehidupan. Karena itu, bumi selalu dikenang dan ditempatkan sebagai ibu dari segala kelahiran, biang dari seluruh yang bernama kesuburan, kedamaian, keseimbangan, harmonis, aman, tentram, tertib. Nilai - nilai baik itu, keberlangsungannya dipelihara oleh hukum kausalitas, yaitu barang siapa menanam benih yang baik, maka ia berhak memanen buah yang baik. Tetapi siapa merusak bumi, bersiaplah menerima bencana.

Supaya ibu kelahiran tidak mengirimkan bencana, kemudian manusia menghormati dan memuja bumi dengan cara menyelenggarakan berbagai ritual, dari yang sederhana hingga yang paling kompleks. Lukisan After Morning Bath yang menggambarkan figur perempuan sedang berjemur seusai mandi, ialah ritual paling sederhana dari pelukis Winkler untuk menghormati bumi sambil merayakan vertilitas dan kesuburan.

Lukisan itu sarat dengan simbol - simbol kesuburan, kedamaian, keseimbangan, dan harmoni sudah sejak kita mencerap komposisi warna dan bidang yang didedahkan Winkler. Cermatilah, figur - figur berbentuk bulat dan berukuran besar, merupakan representasi dari kemakmuran dan keindahan. Pernah pada suatu masa yang sudah lewat terjadi di Romawi, perempuan yang dinilai indah dan cantik, justru yang perutnya sedikit buncit dengan tubuh yang semok (sehat dan montok).

Dalam pada itu, Winkler sering kali menuangkan warna gelap dan terang secara gradual pada objek lukisnya. Terang dan gelap adalah kondisi yang paralel dengan konsep lingga dan yoni, siang dan malam, laki dan perempuan, baik dan buruk, atau unsur - unsur kontradiktif lain yang hadir untuk saling melengkapi hingga tercipta keseimbangan. Jauh di hatinya yang paling kanan, Winkler memang seniman yang mengagungkan harmoni dan kedamaian.

Pilihan warna terang dan gelap itu, sadar atau tidak, pasti muncul ke permukaan karena dorongan psikologis Winkler yang mendambakan kehidupan yang harmonis nan damai itu. Pernyataan psikolog Sigmund Freud turut memberi keyakinan kepada kita, bahwa ekspresi manusia selalu dilatari oleh kondisi psikologisnya.

Kita dapati, mata perempuan pada lukisan itu nampak terpejam. Hal ini terjadi bukan karena Winkler kurang bisa menggambar mata yang sedang terjaga, tetapi juga karena didorong oleh pribadi Winkler yang tidak mau mencampuri urusan orang lain. Ini bukan berarti Winkler tidak mau peduli orang lain. Melainkan lebih karena Winkler ingin menghormati suasana damai supaya ia produktif (subur) dalam kebaikan. Habislah waktu dan tenaga kalau hidup ini melulu diisi konflik.

"Saya tidak pernah berkelahi, sekalipun pernah latihan boxing waktu kecil," kata Winkler ketika kami mengunjungi studionya.

Hidup itu, kalau kita menelan mentah - mentah pendapat Wolfgang von Goethe, adalah peperangan. Kata orang Latin, Manusia adalah hormoni lupus (mahluk saling memangsa). Tapi darah seni yang mengalir di tubuhnya, yang diwariskan oleh kakeknya, membuat Winkler memilih mengalah bila berhadapan dengan konflik.

"Tentu saya akan protes jika saya rasa ada yang tidak fair. Namun saya akan mengalah jika konflik harus diselesaikan dengan berkelahi," kata seniman kelahiran Norrkoping, Swedia, 26 juni 1969 itu.

Kemudian saya coba membaca karakter Winkler pada tanda - tangannya. Garis yang dibentangkan pada tanda - tangannya, nampak luwes dan tidak mengandung sudut yang menajam. Sudut tajam pada tanda tangan adalah cermin dari seorang yang gemar berkonflik atau egois, ingin enak sendiri, ingin menang sendiri. Winkler bukan dari kategori itu.

Alumni Nyckelviken School of Arts dan Beckmans School of Design ini, adalah seniman yang lebih memilih mendedikasikan dirinya untuk berkarya dan menikmati keindahan alam.

Dari Swedia, Winkler memutuskan untuk pindah ke Bali, adalah karena kehidupan di Bali relatif damai dan masih mempertahankan adat yang harmonis. Lingkungan Bali itu, tentu cocok untuk jiwa seni seorang Winkler.

Sebagai pelukis, kali pertama Winkler menggelar pameran tunggal adalah pada 1992 di Linden Gallery, Norrkoping, Sedia. Sejak itu, tidak kurang dari delapan kali Winkler pernah menggelar pameran tunggal. Oktober 2009 nanti, Winkler akan menggelar pameran tunggal pada ajang Singapore Art Fair (SAF). Tahun ini, karyanya ikut juga tampil di SAF, tapi tidak dipamerkan secara tunggal.

Winkler, menurut hemat saya, adalah seniman romantik yang berjiwa melankolik, yang mengandalkan bahwa bumi harus ditata dengan benar. Begitupun karya seni, harus diperlakukan sebagaimana mestinya.

Celebrating Fertility

The "good earth" theme is evident in the latest Arti cover featuring Richard Winkler's work After Morning Bath (2008, 120 x 90 cm, oil on canvas).

The earth is a source of life which supplies food source as well as a place for all beings to obtain protection. Therefore, the earth is always remembered as mother for all living things. At the sametime, it refers to fertility, peace, balance, harmony, safety, laws and regulations. The metaphor lies with the law of casualty that states "what you reap is what you sow.

In order to maintain peace and harmony in accordance to the law, human beings respect and worship the earth. They do it by undergoing various.

For this particular painting, Winkler has chosen a set of color composition that consistently features symbols of fertility, peace, balance and harmony from all different angles. His large volumetric figures that are often round in shapes represent beauty and prosperity. True to the sense of Roman era, female figures which display volume and health are regarded as true beauty.

As like many of his work, Winkler often treats his dark and light colors gradualy. Both light and dark are conditions that paralel the concept of lingga and yoni, day and night, male and female, good and bad or other contradicting elements that exist to complete a sense of balance. In his right of heart, Winkler is an artist who deeply appreciates harmony and peace.

His choices of dark and light colors seem to subconsciously appear in his attainment of harmonious and peaceful life. Sigmund Freud's theory states that human expressions will always reflect his or her true psychological condition. This theory has convinced us it is true with the case of the artist Winkler.

In the painting, we find the eyes of the female subject closed. The reasons do not reflect on his true artistic ability on his indifference in others' lives.

Instead, he does it to pay tribute to the peaceful surroundings to produce fertility and abudance goodness.

The one that is free of chaos and conflict. Winkler confesses that he is never involved in any type of fight even though he was an avid boxing student when young.

According to Wolfgang von Goethe, life in itself is full of conflict. The law of beings state that humans are preys and predators. Fortunately, through his grandfather, the artist Winkler prefers to avoid conflict at all cost.

Through his signature, I also tried to read his character. The lines used in his signature appear smooth and flexible. They do not show any sharp angles. It is known that sharp lines reflect a personality full of conflict and ego. This, I do not find in Winkler at all.

The alumnus of Nyckelviken School of Art and Beckmans School of Design is an artist who prefers to dedicate his life to arts and the beauty of life.

Several years ago, Winkler made to decision to move to Bali as he finds life in Bali to be peaceful, with strong traditions that are fierce in protecting its harmonious environment. To the Swedish born artist, Bali becomes the perfect place to gains inspirations.

As an artist, Winkler first held his solo exhibition in Linden Gallery, Norrkoping, Sweden in 1992. Since then, he has held not less than eight other solo exhibitions. In october 2009, Winkler will hold another solo exhibition for the upcoming Singapore Art Fair SAF. Although he did not hold his solo exhibition, his works were widely received in this year's art fair.

In my opinion, Winkler is a romantic artist with a melancholic soul. He is a wholesome artist who believes that the earth needs to be filled with beautiful things. Like a work of art, the earth should get all the respect it deserves.


Please click the picture to view the actual article

Merayakan Kesuburan Merayakan Kesuburan Merayakan Kesuburan