Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Menatap Bali Yang Lain
KHAZANAH - Pikiran Rakyat, 20 Oktober 2007
DENPASAR Bali malam hari. Lanskap kota dengan patung Catur Muka menjulang di tengah perempatan jalan. Ia adalah representasi dari empat dewa yang melindungi empat arah mata angin: Wisnu yang menatap ke utara, Brahma ke selatan, Maha Dewa ke barat, dan Iswara yang memandang ke arah timur. Di tengah persimpangan jalan, patung itu tegak seolah satu poros yang anggun dan mistis. Keempat wajah dewa itu menatap ke arah masing-masing mulut jalan. Wajah yang agung sekaligus mengawasi.

Di bawah patung itu, tampak jalanan dengan sinar lampu kendaraan. Tidak begitu ramai, bahkan mungkin terkesan lengang untuk ukuran kota seperti Denpasar. Tapi, lanskap itu juga menghadirkan ruang - ruang yang lain seperti pepohonan dalam cahaya temaram juga pura di kejauhan.

Lebih menjauh lagi, di bagian yang menjadi latarnya, lanskap kota itu menampilkan visualisasi alam yang impresif: gunung, bulan, dan gerak angin yang bergelombang, mengambang lurus dengan bentangan jalan, dan patung Catur Muka yang tegak di tengah persimpangan. Satu komposisi harmonis yang hendak mempertemukan dunia manusia, misteri alam, dan ruang para dewa.

Namun demikian, komposisi tersebut juga memaktubkan satu sikap pandangan yang ironis. Meski dunia manusia di situ tampak hanya menjadi bagian dari kesemestaan misteri alam dan para dewa, namun dunia manusia adalah dunia yang tengah berusaha merebut segenap ruang. Bahkan, hingga memasuki ruang misteri alam. Di belakang patung catur muka, sejumlah hotel tegak menjulang seolah merampas garis hubungan antara alam dan patung tersebut. Hotel itu pun nyaris sejajar dengan gunung. Dalam kosmologi ruang menurut kepercayaan Hindu - Bali, tentu saja hal ini amat di tabukan, karena pada kenyataan yang sesungguhnya hotel tersebut tak pernah ada.

Tapi, inilah yang di hamparkan oleh pelukis I ketut Marra di atas kanvasnya. Satu kesengajaan untuk tidak sekedar memindahkan realitas ke atas kanvas. Lebih dari itu, menempatkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, seperti hotel tersebut, baik dimaknai sebagai satu strategi penyikapan atas suatu fenomena ketika Bali tak henti-henti menjadi komoditi ekonomi, yang secara perlahan melenyapkan ruang - ruang sakralnya. Imajinasi pelukis di sini juga hendak di maknai sebagai representasi dari satu kecemasan, yang mungkin juga bisa di baca untuk memberi peringatan.

Inilah yang dimaktubkan oleh I Ketut Marra dalam "Denpasar Moon", satu dari sejumlah karya yang dipamerkannya dalam Singapore Art Fair, 4 - 8 Oktober 2007 yang baru lalu, di Exhibition Hall Suntec City Singapura. Dalam "Denpasar Moon", satu hal yang menarik dari karya pelukis April 2007 yang lalu, memamerkan karyanya dalam ajang Voice Of Peace From Bali to the World di Brussel Belgia, adalah bagaimana ia memperlakukan tema dalam strategi sikap pandangan untuk meyelinapkan satu kritik sosial yang halus.

Ia tak hanya merekam denyut dalam kehidupan masyarakat Bali seperti yang kerap di temukan, pasar, pura, atau lanskap pantai, misalnya. Lebih dari itu ingin mengungkap satu sudut di kota Denpasar, dengan menghadapkan kesadaran para dewa sebagai poros gerak alam semesta dan manusia, serta dunia manusia itu sendiri yang perlahan meniadakan alam sebagai ruang - ruang sakral. Dengan kata lain, "Denpasar Moon" berangkat dengan semangat menghadapkan tarik-menarik antara dialektika kesadaran pada kosmologi ruang dalam kepercayaan Hindu - Bali, dan ruang itu sendiri yang melulu sebagai objek dalam kepercayaan dunia manusia atas kapital.

SEOLAH hendak mengecualikan dirinya dari kecenderungan lukisan yang bertemakan Bali, I Ketut Marra berangkat membawa sejumlah karyanya ke ajang pameran Singapore Art Fair 2007 ini dengan semangat yang berbeda. Semangat itu adalah semangat dalam memperlakukan sudut pandang terhadap Bali sebagai pilihan tematiknya. Ia seolah bukan hendak melayani kebosanan banyak orang memandang lukisan-lukisan bertemakan Bali yang selalu bertutur ihwal para penari, barong, pura, pantai Kuta, atau Pasar.

Bali di atas kanvas I Ketut Marra, sekonyong - konyong hadir dengan visualisasi kesadaran yang lain. Kesadaran untuk mengeksplorasi bagian - bagiannya yang tak terduga. I Ketut Marra, dengan karya - karya itu, seperti hendak mengatakan bahwa Bali bukan hanya pura, pantai, pasar, dan para penari, namun juga hamparan pesawahan, seperti hadir dalam "Ricefield in Canggu-Kuta". Lukisan elok itu menampilkan hamparan pesawahan dengan style ungkap naturalisme yang didominasi warna kuning dan hijau yang elok serta sejuk. Pohon - pohon kelapa dan undakan pematang yang membuat lanskap makin terasa menjauh.

Menyebut Kuta adalah ingatan pada hamparan laut, pantai, dan gelombangnya. Dan pembelokan ingatan inilah yang agaknya hendak di lakukan oleh I Ketut Marra dengan menghamparkan bagian lain dari kuta, yakni hamparan pesawahan di Desa Canggu. Kecuali lewat judulnya, tak ada satupun penanda bahwa karya itu bertemakan Bali. Sebutlah, tak ada satupun pura yang tampak di kejauhan. Oleh karena itu, seandainya lukisan tersebut di lepaskan dari judulnya dan diberi judul baru, misalnya, "Alam Priangan", tentu tak akan ada bedanya.

Lewat judul itu, sesungguhnya I Ketut Marra menjelaskan strategi dalam pilihan tematiknya bahwa Bali dan Pantai Kuta bukan melulu laut, ombak, dan pantai. Meskipun mungkin belum menyiratkan semacam perlawanan terhadap apa yang telah menjadi kecenderungan, namun lewat pilihannya itu I ketut Marra hendak menyorongkan bagian berikutnya dari apa yang selama ini terkesan luput dari amatan para pelukis dalam menatap Bali.

Dalam kanvas I Ketut Marra, pura juga dihadirkan dalam sikap kesadaran yang lain. Ia tidak menjadi tempat kemana manusia datang untuk berkomunikasi dengan alam transendennya dalam berbagai peristiwa ritual. Dalam "Shrine Temple in Batubulan", pura menjadi fokus dari keheningan pepohonan dan alam semesta yang mengelilinginya. Pura di situ seolah menjadi manifestasi dari kesadaran kosmologis ihwal jagat semesta, yang menjadi perwujudan dari para dewa. Gerbangnya yang terbuka adalah metafora dari kemestian hati manusia, yang terbuka untuk masuk ke alam para dewa. Tepat di tengah - tengah mulut pura, jauh ke dalam lewat citraan yabg samar, tampak bangunan sakral yang menjadi pusat pura.

Tentu saja I Ketut Marra tak hanya mengusung "Denpasar Moon" ke ajang pameran Singapore Art Fair 2007 lewat strategi tematik semacam itu. Lanskap Kota Denpasar dan bulan yang mengambang di tengah gerak angin dalam lukisan berukuran 140 x 200 cm itu hadir dengan strategi estetisnya yang unik. Bidang kanvas I Ketut Marra adalah bidang tanpa teknik sapuan, demikian pula ketika ia memberi aksentuasi pada sejumlah volume objek.

Sebaliknya, bidang kanvasnya adalah bidang yang di penuhi oleh torehan cat. Torehan yang menciptakan image dan asosiasi gerak. Nyaris seluruh ruang torehan-torehan itu menghadirkan estetika visual yang mengarah pada misteri, terutama di bidang langit dan bulan. Di situ torehan - torehannya, dengan olah citra warna hijau, putih, dan ungu, mengongkretkan visualisasi angin yang bergelombang, gerak yang merambat mistis, dan mengambang di atas perbukitan dan gunung. Di tengah gerak angin itulah bulan putih mengambang, tampak agung, dan tenang.

Dalam "Ricefield in Canggu-Kuta" torehan-torehan itu bergerak dalam detail yang intens, menciptakan komposisi gerak daun padi dan angin yang tampak di kejauhan. Torehan-torehan itu memang akhirnya tak hanya menampilkan keelokan visualisasi Bali, terutama yang bertemakan alam dengan permainan komposisi dan teknik pewarnaannya, namun juga memaktubkan gerak misteri yang melingkupinya. Dalam "The Dreamland in Bangli" torehan itu menciptakan gerak biru kuning yang memagut gunung yang menjadi pusat lanskap. Langit dan angin bergerak seolah menjadi kekuatan agung dan mistis yang melingkupi seluruh panorama elok di bawahnya, sungai hutan, dan warna-warna daun.

Teknik menoreh di atas bidang warna untuk menciptakan image gerak pada alam semacam itu, tentu saja dengan mudah mengingatkan kita pada pelukis Vincet Willem Van Gogh (1853 - 1890). Jika dalam salah satu karya terakhirnya "Wheatfield with Crows" Van Gogh nyaris memenuhi seluruh visualisasi ladang gandumnya dengan torehan - torehan untuk luluh ke dalam pencekaman, misteri, dan kesepian: torehan - torehan itu di pungut oleh I Ketut Marra dan mengalihkannya ke dalam visualisasi alam Bali untuk menegaskan misteri di balik keindahan.

"Ide untuk mengambil gaya Van Gogh ini sudah lama muncul semasa saya duduk di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa ( SMSR ) Denpasar. Tapi, baru sejak 1993 saya melakukannya. Yang membuat saya tertarik pada gaya Van Gogh bukan hanya karena corak estetika, tapi pada karakter dan emosinya yang bagi saya cocok untukdi terapkan ke dalam konteks Bali," ujar pelukis alumnus Fakultas Seni Rupa IKIP Yogyakarta (UNY sekarang) ini. (Ahda Imran )***

Please click the picture to view the actual article

Menatap Bali Yang Lain