Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Loyalitas pada Seni

Art Bazaar
, 2011

Duo seniman Richard Winkler dan Arffien Neif sekali lagi dipresentasikan Galeri Zola Zolu pada Bazaar Art Jakarta 2011.

Untuk ketiga kalinya Galen Zola Zolu menggandeng seniman Richard Winkler dan Arifien Neil pada pamerannya di Bazaar Art Jakarta kemarin. Masing-masing seniman kembali memamerkan koleksi lukisan dan patung terbaru. Arifien Neil yang tampil lebih klasik dengan warna-warna lembut, bersanding dengan karya Richard Winkler yang mengaplikasikan warna-warna striking dan bentuk-bentuk kubisme.

Arifien Neif yang berbasis di Jakarta memperoleh pengetahuan seninya dari maestro lukis Indonesia, S. Sudjojono dan Affandi. Pendidikan informal ini diterimanya dengan cam memerhatikan kedua seniman mengobrol dan bertukar pikiran di kafe sekitar Institut Kesenian Jakarta. Semangat Arifien muda saat itu tidak dihentikan oleh kenyataan bahwa ia tidak bisa membayar biaya untuk perguruan tinggi. la kerap kali datang ke IKJ untuk duduk di luar ruangan kelas, mendengarkan ajaran dosen yang ada di dalam kelas. Kegemarannya menggambar sejak usia dini sempat mendapat tantangan dari orang tuanya, yang masih menganggap masa depan seorang seniman tidak cerah.

Lukisan Arifien Neif mencerminkan segala sesuatu tentang dirinya, pandangan, perasaan, dan cerita hidupnya. Ia terinspirasi oleh empat seniman besar dunia, yaitu Henri Matisse, Marc Chagall, Paul Gauguin, dan Raoul Duty. Sentuhan ala Matisse terlihat dari latar belakang panorama kota Paris yang sering muncul di lukisan Arifien. Bagi mereka yang tidak tahu bahwa Arifien pernah tinggal di Paris selama enam bulan, akan menganggap hal ini langsung diadaptasi begitu saja dari sang maestro. Pengaruh Chagall hadir lewat sosok hewan yang jugs sering dimunculkan Arifien dalam bentuk seekor anjing. Ini pun bukan suatu kesengajaan yang tak berdasar. Suatu saat dalam hidupnya, Arifien sempat tidak memiliki biaya untuk hidup sehingga harus menunggu makanan sisa dari sebuah rumah makan. Saat menanti makanan itu, ia dihampiri seekor anjing hitam yang juga sering menunggu makanan sisa di tempat yang sama. Beberapa saat kemudian, Arifien telah menikmati hidupnya, sementara anjing tersebut masih tetap kembali ke tempat yang sama untuk menanti makanan. la juga ingin mengingatkan pada pengagum karyanya bahwa jika seseorang berusaha, maka ia dapat terus berkembang. Sama seperti yang dialaminya.

Dari Gauguin ia mengadopsi bentuk tubuh yang berisi. Baginya, sosok manusia yang indah adalah ketika ia digambarkan menjadi dirinya sendiri. Dufy menginspirasinya dengan gambar sudut ruang yang miring. Arifien jugs pernah menghabiskan waktu menjadi staf kebersihan di suatu biro arsitek, tempat ia melihat banyak gambar arsitektur dan terekam dalam ingatannya. Semua yang tertuang, baik di atas kanvas maupun melalui objek patung (yang dibuat Arifien sejak tahun 2009), mengandung makna, filosofi, dan cerita yang panjang tentang kehidupan.

Tema romantisisme adalah cerminan diri ayah lima anak ini. Dalam kesehariannya, ia adalah orang yang romantis, mencintai alam, perfeksionis, dan sangat menghargai kehidupan. Teknik melukisnya pun cukup unik. Setiap menggambar manusia dalam lukisannya, ia akan menggambarkannya dalam keadaan telanjang, baru kemudian ia lukiskan baju apa yang sesuai dikenakan oleh karakter ciptaannya itu. Ia akan terus melapisi kanvasnya, sampai menemukan pakaian yang ia rasa tepat.

Winkler, senimman kelahiran Swedia yang bermukim di Bali sejak 14 tahun yang lalu ini juga menyiratkan sedikit pengalaman hidupnya di alas kanvas-kanvasnya. Sejak kecil, in mengalami kelainan tulang yang disebabkan faktor genetik dari orang tuanya. Setiap operasi tulang yang harus dilewatinya sejak usia dini menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Untuk menghibur rasa sakitnya itu, kakeknya sering kali mengajak Winkler kecil ke hutan lindung dan kebun, yang kemudian sering menjadi latar belakang pemandangan lukisannya.

Seperti Arifien, Winkler juga terinspirasi oleh Paul Gauguin dalam menggambar wajah subjeknya. Pengaruh Henry Moore, Henri Rousseau, dan Picasso juga dapat terlihat di atas kanvasnya. Henry Moore dengan ciri khas bentuk-bentuk lekuk tubuh yang berisi, kubisme ala Picasso, dan warna-warna modern terapan Henri Rousseau.

Melalui lukisannya kali ini, Winkler rnenceritakan tentang kesuburan dan keagungan wanita dari kacamata artistiknya. Bentuk manusia yang kerap kali terlihat seperti memiliki kelainan tulang dapat dilacak kembali ke kisah masa kecilnya. Tanaman-tanaman yang dihadirkan merupakan tanaman yang pernah ia lihat dan amati sepanjang hidupnya, bahkan ada juga yang ditanam sendiri di halaman belakang rumahnya.

Selain lukisan, Winkler juga menekuni seni patung sejak tahun 2008. Pameran patung perdananya dilaksanakan pada Bazaar Art Jakarta yang pertama pada tahun 2009. Dan kali ini, Winkler kembali memukau pengunjung Bazaar Art Jakarta dengan karya patung besar berjudul Mother Earth. Karya berukuran 207 x 143 x 212 cm ini menjadi salah satu karya yang dipamerkan di area foyer Grand Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, awal Agustus lalu.

Ketika ditanya tentang konsistensinya menggandeng dua seniman ini dalam tiga kali penyelenggaraan Bazaar Art Jakarta secara berturut-turut, Hingkie H.P., pemilik Galeri Zola Zola menjelaskan bahwa hal itu adalah bentuk apresiasi dan kesetiaannya terhadap kedua seniman yang secara eksklusif dipresentasikan oleh galerinya itu. Apakah ia hanya akan terus memamerkan karya keduanya? "Tidak, saya akan mengajak serta seniman lain pada Bazaar Art Jakarta berikutnya. Tunggu saja kejutannya," jelasnya.

Oleh Stella Mailoa.



Please click the picture to view the actual article

Loyalitas pada Seni Loyalitas pada Seni Loyalitas pada Seni