Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Kuas Anjing Dan Mimpi - Mimpi
GATRA, 27 November 2008

Dari emperan toko menuju "istana" kayu yang nyaman. Dulu ia pernah hidup sebagai gelandangan. Kini Arifien Neif adalah pelukis yang karyanya banyak di buru kolektor.

Arifien Neif berdiri mematung di jejalanan rumahnya yang luas di jalan Manggis, Cinganjur, Jakarta Selatan. Dihadapannya, seorang pekerja tengah sibuk mengaduk pasir. Lalu ia beranjak, menaiki tangga menuju rumah panggungnya yang berarsitektur Jawa campur India dan Thailand. Di lantai II, tepat di depan tangga, sebuah lukisan jadi terpanjang. "Neif" begitu ia di panggil - usai membuatnya beberapa hari lalu.

Tak banyak yang Neif kerjakan pagi itu. Tapi calon pelukis besar masa depan Asia versi Cbannel News Asia ini memiliki sejumlah agenda. Ia tengah mempersiapkan beberapa lukisan untuk pameran di Surabaya, awal tahun depan Neif juga sedang menyusun buku koleksi lukisannya yang kedua, "Mau di-launching juga di Hong Kong", kata bapak empat anak itu.

Lelaki kelahiran Surabaya, 31 Maret 1955, ini memang tak bisa berhenti melukis. Di luar sana, para kolektor selalu menunggu karya - karyanya. Pameran terakhirnya bertajuk "Fine Romance" di Museum Nasional Singapura sukses luar biasa. Seluruh lukisannya terjual habis. Bahkan satu lukisannya berjudul "Will You Marry Me" (akrilik, 140 x 180 cm) pada April 2008 lalu terlego seharga U$$ 100.000.

Lukisannya di banderol paling rendah Rp 120 juta. Karyanya menjadi koleksi kalangan berpunya Indonesia, bahkan luar negeri. Tercatat, James Riady, Fauzi Bowo, Keluarga Cendana, dan keluarga Ibnu Sutowo menjadi kolektor karya - karyanya. Tak mengherankan jika ia di nobatkan sebagai pelukis papan atas Indonesia masa kini.

Ia disebut sebagai satu dari sekian pelukis beraliran fauvisme - aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang akan di lukis - yang sukses. Meski, ia sendiri menolak disebut begitu. "Aliran saya aliran Arifien Neif", ujarnya.

Jean Couteau kurator pamerannya di Singapura, menilai arifien menempati posisi yang aneh di dunia seni rupa Indonesia. Selain otodidak dan tak memiliki latar belakang sekolah seni rupa, dia berdiri di luar radar dunia seni rupa Indonesia. Menyendiri dari tren dan mode yang tengah berkembang di zamanya. Jean menyebut Neif sebagai pbenomenon.

Arifien Neif memang fenomena tersendiri di kancah seni rupa Indonesia. Siapa yang tahu, awalnya ia melalui jalan cukup sulit sebelum menjadi pelukis besar. Tiga puluh empat tahun lalu, Neif yang berusia 19 tahun hijrah dari Surabaya ke Jakarta. Ketika itu, ia baru tamat SMA dan kedua orangtuanya tidak punya modal untuk ongkos kuliahnya. Padahal, "saya ingin jadi pskiater", ungkapnya.

Tidak ada uang di kantong, tidak tahu juga kemana mesti melangkahkan kaki. Keadaan jadi lebih sulit karena Neif tak punya saudara atau kenalan di Ibu Kota yang bisa di mintai tumpangan. Dengan modal nekat plus sebuah ransel berisi sedikit baju, beberapa kaleng cat yang hampir mengering, pensil, dan kuas, ia menyusuri jejalanan Jakarta.

Ketika malam tiba, ia tidur di emper - emper toko atau masjid. Cat dan kuas tak pernah lepas darinya. "saya jadi gelandangan pada waktu itu," kata Neif. Jauh melangkah, akhirnya ia terdampar di bilangan Juanda dan Batu Ceper. Di sana, ia bisa mencari makan. Sore hari, tempatnya menggelar alas tidur di tempati sebuah tenda restoran. Malam hari, ketika restoran itu menutup tendanya, Neif sudah menunggu di dekat tong sampah.

Ia meraup sisa - sisa makanan yang dibuang di sana. Agar tak tercampur dengan sampah yang lain, Neif biasa memberi alas di dalam tong itu. Ia tak sendirian menikmati hidangan sisa itu. Seekor anjing kampung menjadi temannya berbagi. "Level saya pada waktu itu sama dengan anjing", tuturnya mengenang. Begitu setiap hari.

Jika waktu tidur tiba, ia mengeluarkan kuas dan catnya. Digambarnya sang anjing pada kertas - kertas. Ia melukis. "Itu satu-satunya hiburan saya", katanya. Selesai melukis, ia meremas - remas kertas itu, lalu membuangnya.

Untuk menebus "kebaikan" sang empunya restoran, Neif rajin membersihkan tempat niaga itu. Inisiatif ini lantas dibayar dengan sepiring makanan sisa. Neif tak lagi mengais di tempat sampah. Ia malah di tawari bekerja di restoran itu. Sembilan bulan ia bekerja di sana, selama itu pula ia tidak lagi kelaparan di malam hari. Jika restoran itu libur, Neif tak berpangku tangan. Ia menawarkan tenaganya kepada orang - orang. Maka, di siang hari, jadilah ia kuli angkut. Neif pun bisa mengisi perut dari hasilnya bekerja.

Suatu waktu, ia hendak pergi ke sebuah warung makan. Dari belakang, rupanya "sang teman" anjing kampung itu mengikutinya. Neif tercenung, "Nasib saya sudah berubah, nasib anjing itu tidak," ujarnya. Diberinya si anjing itu daging. "Itu pengalaman emosional yang fundamental sekali," kata Neif dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Kelak, anjing itu selalu menjadi ikon pada setiap lukisannya. Menurut dia, ini merupakan ungkapan terima kasih dan upayanya untuk terus berkaca pada masa lalu. Dari situ, ia percaya, dirinya punya kesanggupan untuk mengubah nasib. Ia juga percaya bahwa dirinya punya kesabaran untuk meraih mimpi - mimpi itu. "Ini membuat saya tidak pernah mengeluh," tuturnya. Buat Neif, kemiskinan adalah ujian, bukan duka melulu.

Lalu episode hidup Neif terus berlanjut. Ia pernah menjadi kuli batu di proyek pembangunan Hotel Hilton. Nasib membawanya pada sebuah konsultan desain interior. Neif lantas bekerja sebagai asisten. Ia mendapat banyak ilmu dari sana - kelak, kemampuan ini mempengaruhi detail interior dalam lukisannya.

Bekerja di perusahaan interior rupanya memberi jalan pada karier melukis Neif. Banyak klien dari perusahaan tempatnya bekerja adalah orang-orang kalangan atas, istri menteri, dan para pejabat."Saya di kenalkan pada mereka," katanya. Gaji dari bekerja pun makin memuluskan bakatnya untuk terus melukis.

"Pada waktu itu, saya cuma mau berkarya, melukis saja, nggak memikirkan ini di jual," ujarnya.

Namun memorinya ke masa lalu membuatnya berubah pikiran. Dulu, ketika duduk di kelas V SD, ia pernah membuatkan seseorang lukisan foto. Ia mendapat bayaran atas kerja kreatifnya ini. "Itu lukisan komersial pertama saya," katanya. Melukis rupanya bisa menghasilkan uang. Dan Neif tentang keputusan penting yang di canangkannya pada 1980-an itu.

Lantas terbentanglah sejumlah kemudahan. Pada saat bekerja di konsultan tadi, ia sempat berkenalan dengan Obin, pemilik gallery batik Obin House di jalan Penarukan. Obin menjadi manajer pertama Neif. Neif menyetor lukisan, lalu Obin menjualkannya kepada kalangan pejabat. "Pada waktu itu mudah sekali," katanya mengenang proses penjualan lukisannya.

Menurut Neif, ia membuat lukisan kalau sudah mendengar " teriakan-teriakan,". Teriakan itu datang dari desakan kebutuhan biaya sekolah adik-adiknya, juga biaya sewa rumah. "Itulah yang mendorong saya untuk terus melukis dan menyetor lukisan. Jumlahnya tergantung teriakan-teriakan itu," ujarnya sambil tertawa kecil. Jika butuh uang cepat, setorannya dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali. Normalnya, ia menyetor dua lukisan kepada Obin. Lalu kasir Obin memberinya uang Rp 150.000, cash!

Pada 1985, Neif mulai berani menggelar pameran tunggal di Gedung Mitra Budaya, Jakarta. Ia mulai menjaring pembeli baru. "Peminatnya bukan lagi dalam negeri, melainkan juga ada orang Jepang," katanya. Namanya mulai di perhitungkan. Debut pameran tunggal di luar negeri dilakoninya di Lorin & Kristy Art Gallery, Singapura, pada 1995.

Gelar karyanya di mancanegara mulai merambah Italia, Jepang, hingga Los Angeles, California, Amerika Serikat. Meski sudah tenar, menurut Neif, hal itu bukan ekspektasinya. "Saya tidak pernah punya orientasi ke arah sana," tuturnya merendah. "Saya melukis itu senang," ia menambahkan. Pada 1997. Neif menjadi pelukis Indonesia pertama yang membukukan karya - karyanya.

Neif mengagumi almarhum Affandi dan S.Sudjojono. Tapi, menurut dia, kekaguman itu tidak berpengaruh banyak pada prosesnya berkarya. "Saya mengembangkan gaya dan warna sendiri. Saya tidak mau menjadi Picasso, nanti saya nomor dua. Saya mau jadi diri saya sendiri, dan itu pasti nomor satu," katanya. Maka, Neif tak ambil pusing ketika ditanya di aliran mana ia berdiri. Banyak yang menyebutnya bukan seniman kontemporer. Tapi, "saya tidak takut dibilang tidak kontemporer," ujarnya.

Neif punya cara tersendiri dalam proses kreatifnya melukis. "Saya membuat mindset sejak awal," ungkapnya. Ia biasa tidur pukul delapan malam. Pada waktu subuh, ia sudah bangun, lalu sebisa mungkin, "Pagi-pagi jangan ada kata - kata yang bisa merusak suasana," paparnya. Ia kemudian duduk di kursi depan studionya, memutar lagu dan mendengarkannya. Dan dari situlah lahir ide untuk melukis.

Satu lukisan bisa ia selesaikan dalam waktu satu minggu. "Dulu lebih cepat," katanya. Ia butuh waktu satu minggu karena ukuran lukisannya sangat besar. Dahulu ia memulainya dari ukuran 30 x 29 cm. Kini diameternya ratusan sentimeter. "Setiap dua tahun, ukurannya naik," kata suami Syeina itu.

Selain ukuran, Neif pun mentransformasi tema - tema lukisannya. Dulu ia mengusung tema spiritual, lalu psikiatri. Dan sejak 10 tahun lampau hingga kini, ia mengambil tema cinta untuk lukisannya. "Ini yang sampai sekarang saya pakai," katanya.

Setelah makin sukses, Nief berinisiatif pindah rumah. Sejak 2005, ia memutuskan pindah dari daerah Menteng ke Cinganjur. Di atas tanah seluas 8.000 meter persegi, ia membangun desa kreatif Chandari. Ia mendirikan pedepokan - pedepokan kayu disana. Niatnya, memberi ruang partisifasi kreatif kepada orang - orang kempung setempat.

Beberapa workshop pernah di gelar di sana. Kini ia membuak kelas bahasa inggris seminggu sekali untuk anak - anak tetangganya. Ia juga tengah merancang berdirinya Museum Desain Grafis Indonesia. "Masih dalam tahap perencanaan," ujarnya.

Membangun desa kreatif dan museum adalah mimpi yang sedang di wujudkannya. "Apa yang di capai, jika tak ada manfaatnya untuk orang lain, rasanya saya tidak punya poin," katanya. Modalnya hanya tekad, dan ia sudah membuktikannya.


Please click the picture to view the actual article

Kuas Anjing Dan Mimpi - Mimpi Kuas Anjing Dan Mimpi - Mimpi