Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Kota Dalam Sepatu
KHAZANAH - Pikiran Rakyat, 8 Desember 2007
Dua buah sepatu yang berbeda model dan "jenis kelaminnya". Sepatu lelaki yang sebelah kiri, sedangkan sebelah kananya sepatu perempuan. Keduanya bersilangan, saling menyerong seperti saling membelakangi dengan sepatu perempuan menembus sepatu lelaki.

Dalam kedua sepatu itu tumbuhlah sesuatu, memenuhi lubang sepatu, mencuat keluar seolah membuat sepatu itu sebentar lagi akan sobek. Sesuatu itu adalah sebuah kota besar bernama Jakarta, dengan kerumunan gedung tinggi.

Kota di dalam sepatu itu tampak dari kejauhan karena ukuran keduanya demikian besar. Namun, lebih besar lagi adalah ruang yang melingkupinya. Sebuah ruang luas yang tanpa batas dan tampak amat lengang dan misterius meskipun berwarna terang dan lembut. Kelengangan menjadi lebih terasa lagi dengan hadirnya enam manusia yang berjalan menuju kota dalam sepatu itu.

Di dalam ruang yang luas dan menuju ke arah kota dalam sepatu yang besar itu, tampak manusia begitu kecil. Ukuran yang seolah hendak menerangkan, betapa manusia di situ hanyalah bagian dari pusat yang menjadi hasratnya, yakni, kota tumbuh dalam sepatu raksasa. Dengan kata lain, kota besar dalam sepatu yang mengilap adalah gerak masif yang melingkupi segenap hasrat manusia urban. Di luar itu tak ada apapun selain semesta yang luas dan lengang. Kota dalam sepatu yang mengilap agaknya hendak menjadi metafora dan imaji yang lain ihwal penanda gerak manusia dalam ruang modernitas kota besar dengan segenap kesuksesan dan hasrat-hasrat terhadapnya, yang sekaligus menyimpan paradoks.

Inilah yang di usung oleh perupa Yogjakarta, Agung Yuwono. Di atas kanvas 140 x 195 cm dengan judul "Urbanisasi", ia memaktubkan gagasan visual ihwal betapa paradoksnya kota dalam budaya urban. Dengan penggunaan teknik yang sayup-sayup mengingatkan orang pada kemunculan gaya surealisme Yogja pada awal tahun 1990-an, Agung mengusung sebuah tema sosial yang sampai hari ini masih menjadi realitas konkret. Namun, "Urbanisasi" hanyalah satu dari sejumlah karyanya yang intens mengolah metafora sepatu dalam bidikan tematik ke arah fenomena dalam budaya urban. Bahkan bisa di sebut metafora dan tema inilah yang mendominasi pengungkapan karya-karyanya yang akan di pamerkan di Sarah's Gallery Hongkong, 18 Januari - 2 Februari 2008 mendatang. Pameran yang bertajuk "Emerging Contemporary Artists from Indonesia" ini di selenggarakan oleh The British Lawyer Collector Based in Hongkong. Sebelumnya, pelukis kelahiran tahun 1977 ini memamerkan sejumlah karyanya di Art Space Royal Plaza on Scotts, Singapura, 27 September - 7 Oktober 2007 yang lalu, yang di ikuti para pelukis dari India, Filipina, dan Indonesia.

Seperti sejumlah karyanya yang dipamerkan di Singapura, dalam pamerannya di Hongkong itu, perupa ini masih memperlihatkan eksplorasinya yang intens dalam mengolah benda keseharian yang akrab dengan tubuh manusia, yakni sepatu dan sandal jepit.

SEPATU dan sandal jepit dalam lukisan-lukisan Agung Yuwono dihadirkan lebih dari sekadar penuturan tentang peradaban alas kaki yang sifatnya fungsional, melainkan bagaimana peradaban tersebut juga berkorelasi dengan makna sosiopsiko kulturalnya. Dalam pemaknaan tersebut keduanya saling berhadapan di tengah realitas sosial masyarakat kontemporer hari ini.

Sepatu yang gemerlap selalu menjadi metafora dari kemilau kota besar yang menjadi pusat hasrat dan sekaligus yang menindas.

Menjejalkan kota besar ke dalam sepatu tak hanya tampak dalam "Urbanisasi", tetapi juga mengemuka dalam karyanya yang lain, "Ibu Kota". Karya ini menarik karena Agung dengan cerdik berangkat dari interpretasinya atas "Jenis Kelamin" Jakarta sebagai ibu kota. Karya ini menampilkan sepatu seorang perempuan dengan model trendi, seperti yang banyak di pakai oleh wanita karier kelas menengah di kota-kota besar. Sepatu warna cokelat dengan motif bunga, menutup jari tetapi terbuka di bagian pergelangan kaki.

Dalam bagian sepatu perempuan yang terbuka itulah, tampak Kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi yang berjejalan dan kemacetan. Sebuah pesawat tampak melayang di atas sepatu itu, sedangkan di bawahnya kemacetan terjadi. Seperti "Urbanisasi", sepatu itu berada di atas dataran yang demikian lengang dan luas dengan kendaraan serta manusia yang berukuran kecil. Manusia dan kesibukannya di situ bukanlah individu, tetapi bagian dari suasana yang melingkupinya : antara Kota besar yang sibuk dan ruang semesta yang lengang.

Namun, kota besar tak hanya ada dalam sepatu-sepatu trendi yang mengilap. Sebuah karyanya yang di pamerkan di Singapura, "Petualang" menampilkan sebuah sepatu bot yang garang. Ketinggian sepatu itu menyerupai sebuah bukit. Dari lubang itu samar tampak menyembul pucuk gedung-gedung tinggi Kota Jakarta. Ke puncak sepatu itulah orang mendaki. Hasrat menuju kota besar dengan kesuksesan yang dijanjikannya adalah sebuah petualangan, sebuah permainan yang mendebarkan, sekaligus sebuah pertempuran.

Sandal jepit seolah hendak melengkapi paradoks yang dihadirkan Agung. Sejenis sandal yang oleh manusia modern citraan pemakaiannya dibatasi hanya untuk ke toilet. Dalam "Terjepit", tampak sebuah hak sepatu perempuan yang tinggi menginjak sandal jepit hingga melengkung, sedangkan di bawahnya sejumlah kuli bangunan sedang bekerja.

TEKNIK sapuan kuas yang lembut dan manis mendominasi setiap kanvas Agung Yuwono. Juga pengolahan warna-warna soft, sebutlah merah muda dan cokelat muda. Perhitungan komposisi dan detail hadir dengan kemampuan teknik ungkap realisme yang apik. Agaknya ia memperhitungkan benar setiap inci karyanya agar sedap di pandang mata, dan ia berhasil.

Lukisan-lukisan Agung adalah lukisan yang indah, warna, komposisi, bentuk, dan seluruh elemen visualnya sejuk di mata. Mengapa gagasan kesadaran ihwal realitas sosial yang serba menyedihkan itu justru muncul dengan teknik visualisasi yang begitu indah bersih?

Pertanyaan itu sesungguhnya adalah jawabannya itu sendiri. Ia menghadirkan ruang paradoks yang lain, antara memandang yang di pandang. Paradoks di tengah realitas budaya tontonan masyarakat kontemporer hari ini, ketika tak ada lagi yang tersisa kecuali menikmati segala sesuatunya sebagai tontonan. Bukankah itu juga terjadi di kota ini? (Ahda Imran)***


Please click the picture to view the actual article

Kota Dalam Sepatu