Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Dunia Laris Arifien Neif
Gatra , 13-19 Mei 2010

mencoba pasar lokal. Bandung jadi pilihan.
Lebih dari 90% lukisannya “habis” dipesan.


Satu siang di jantung kota Beijing. Dua sejoli tengah berasik-masuk di dalam bilik hotel. Udara panas. Pintu kamar pun dibiarkan terbuka. Duduk di kursi. Marilyn Mondroe, artis Hollywood. Kakinya terangkat satu, setengah roknya tersingkap. Tangannya menjambak dasi merah milik seorang lelaki tua botak.

Lelaki itu Mao Zedong, pendiri Republik Cina. Mao tersinggung atas perlakukan Mondroe? Tidak. Keduanya tertawa riang. Yang gelisah Cuma anjing kurusa yang mengendus kaki Mao. Di meja, sebuah buku Kapitalis Global teronggok bersama botol minuman dan penganan.

Gambaran bagaimana kapitalis -- yang diwakili Mondroe—mencoba merayu komunisme Mao itu dipaparkan Arifin Neif dalam lukisannya yang bertajuk I Can See My Dream Reflection in Your Eyes (180 x 140 cm, 2009). Lukisan ini satu dari 28 karya Arifin Neif yang ditampilkan dalam pameran tunggal “Wonderful World” di Galeri Zola-Zolu, Cihampelas Walk, Bandung, 7 Mei hingga 15 Mei 2010.

Karya-karya itu, “hasil kerja seni saya selama empat tahun,” kata Arifin. Semuanya beraliran romantisme. “Saya tidak pernah ikut tren.Dari dulu, saya seperti ini,” katanya sambil tertawa. Lukisannya banyak menyuguhkan unsure seksualitas, sensualitas, dan aktivitas extravaganza. Rata-rata didominasi warna pastel.

Arifin mengutarakan pesta, dansa dan aktivitas kamar pribadi dalam sejumlah karyanya. Namun ia berupaya pula memadupadankan symbol modernisme dan tradisionalisme dalam karyanya. Misalnya pada karya Wonderful World (180 x 140 cm, 2009), yang memotret upacara pernikahan di depan sebuah pura  di Bali.

Sepasang pengantin modern muncul dari pura. Berjalan melewati altar dan upacara pedang pora. Para undangan berkumpul di sisi kiri-kanan. Ada yang kagum, beberapa terlihat bergunjing. Tak tersirat kritik. Yang ada adalah upaya Arifin menunjukkan bahwa  kolaborasi modernisme dan tradisionalisme itu membuat dunia indah.

Dengan cat minyak, Arifin juga “memotret” perempuan dari berbagai penjuru dunia. Mulai perempuan Amerika, Timur Tengah, Eropa, hingga perempuan lokal Bali. Bisa dibilang, perempuan adalah objek tetap dalam karya-karya Arifin.

Antar lain terdapat pada Oasis (140 x 180 cm, 2010) yang penuh romantisme. Seorang permpuan bercadar  duduk berbaring. Di sampingnya, diam seekor buaya cokelat. Di luar, ada pohon kering meranggas. “Ini sebuah fatamorgana seorang lelaki yan pergi ke jalan sutra” tutur Arifin. “Istrinya ditinggal.  Buaya adalah symbol kebutuhannya yang terpenuhi, sedangkan pohon kering adalah lammbang hati yang sedih,” ia melanjutkan. Indah, tapi menyimpan rindu dendam.

Modus romantisme Arifin bisa jadi sering dikecap kolektor di Jakarta dan luar negeri. Karena itu, ia bisa meraih hati para penggemar seni di Bandung. “Saya mencoba market baru. (Pameran) di bandung katanya tidak pernah ada yang sukses (secara bisnis),” papar pelukis yang katanya masuk Christie’s dan Southeby’s sejak 1990 itu.

Bandung memang jarang disambangi pelukis ternama untuk berpameran tunggal. Kalaupun ada, pameran seperti ini kerap keok di penjualan. Tapi itu tidak berlaku untuk pelukis yang karyanya di koleksi para kolektor mapan ini. Upayanya tidak bertepuk sebelah tangan. “Dari 28 karya, 26 sudah dipesan orang. Tinggal dua yang tersisa,” kata Hingkie, pemilik Zola-Zolu.

Para pemesan itu, menurut Hingkie, kebanyakan kolektor baru asal Bandung. Arifin membuktikan,karyanya laris manis di Bandung.

Wisnu Wage Pamungkas


Please click the picture to view the actual article

Dunia Laris Arifien Neif