Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Diawali dari Melukis Wajah Bapak
Seputar Indonesia Bandung, Jumat, 12 November 2010

Chairul S Sabarudin atau Iroel coba tetap konsisten pada budaya timur. Di tengah banyaknya pelukis profesional, Iroel justru menjadikan wanita sebagai anugerah terindah yang patut dihargai.

BUKAN wanita yang dieksploitasi kecantikannya, seperti Iukisan kebanyakan. Lukisannya memadukan wanita, harimau, dan kuda zebra, seperti pada pameran tunggalnya di Zola Zolu Gallery, Mal Ciwalk. Iroel tetap menempatkan wanita sebagaimana mestinya. Idealismenya itu membuat Iukisannya diakui banyak pihak dan dihargai materi yang tidak sedikit jumlahnya.

Perjalanan hidupnya menjadi seorang pelukis tidak didapat dengan instan. Iroel dibesarkan orang tua yang tidak memiliki darah seni sama sekali. Bapaknya adalah anggota TNl, sedangkan ibu tidak bekerja.

"Kelas IV SD saya menggambar human steak di tembok rumah, karena tidak tahu lagi harus di mana saya menggambar. Saat itu, keluarga saya tidak ada darah seni sama sekali," jelas lroel.

Rasa keingintahuannya membuat lroel kecil memberanikan diri bertanya kepada pelukis jalanan di Malang, Jawa Timur "Hingga kelas VI SD, saya menggambar foto Bapak yang saat itu masih dibantu garis bantu. Namun, itulah awal rasa percaya diri saya muncul. Kendati buatan anak-anak, tapi karakternya ada," ungkap pelukis yang mengaku paling suka dengan lukisan "Lady Diana" yang dijual Iroel seharga Rp 38 juta.

Kerja kerasnya terus diasah dengan menggambar sejumlah tokoh dunia. Puncaknya, ketika lelaki kelahiran 17 Mei 1968 itu duduk di bangku SMA, Iroel memberanikan diri menerima order melukis foto. Keahliannya terus diasah dengan mengambil jurusan Seni Rupa dan Kerajinan di Universitas Negeri Malang (UNM). Pekerjaannya pada sebuah hotel di Bali, membuat Iroel memutuskan menjadi seniman pensil warna, ciri khas yang saat ini masih digunakannya dalam melukis.

"Pekerjaan yang terlalu teknis membuat saya stres berat. Jiwa saya melawan atas rutinitas itu. Dan akhirnya, saya memutuskan menjadi pelukis profesional atas bantuan Hingkie HP dan Zola Zolu Gallery setelah sekian lama saya ikut pameran dari galeri satu ke galeri lainnya," cerita lelaki yang hobi masak itu. Sejak saat itu, Iroel berani mengembangkan bakatnya dengan tetap mempertahankan budaya ketimuran.

Karyanya mengagungkan wanita, tapi tidak mengeksploitasinya. "Saya stres melihat wanita selalu dieksploitasi. Padahal, wanita punya keindahan tanpa harus mengeksploitasinya. Zebra saya gambarkan sebagai penarik perhatian tapi mampu menjadi pertahanan, sedangkan hanimau adalah penjaga keindahan," imbuhnya kepada SINDO.

Penggemar lukisan Iroel datang dan Jakarta, Bandung, Singapura, Hong Kong, dan negara besar lainnya. Harga lukisan Iroel rata-rata di atas Rp lOO juta.

Kendati demikian, Iroel masih sempat mengajar sukarela untuk anak-anak TK dan berkeinginan menggelar pameran tunggal di negeri orang.
(arifbudianto)


Please click the picture to view the actual article

Diawali Dari Melukis Wajah Bapak Diawali Dari Melukis Wajah Bapak