Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Dari Cheong Soo Pieng Sampai Richard Winkler
Harper's Bazaar Indonesia, Desember 2009

Jika pameran ini merupakan ajang lomba antarpelukis dan galeri internasional, siapa ya pemenangnya?

Mendung menggantung di langit Singapura. Mungkin itu simbolisme dari krisis ekonomi yang tengah melanda. Meski begitu upaya pemerintah negara ini untuk terus menjual pariwisata dengan berbagai cara, patut kita tiru. Tengok saja di pelaksanaan ARTSingapore 2009 yang berlangsung 8 - 12 Oktober 2009 di International Convention and Exhibition Centre di Suntec City. Ini adalah ajang pamer seni tahunan (ke-9) yang menampilkan lukisan, patung, instalasi, fotografi serta digital art dari berbagai seniman internasional terutama Asia Tenggara. Meski tahun ini terlihat lebih kecil dan pesertanya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap saja menghasilkan transaksi yang tidak sedikit.

"Singapura memang mengalami resesi ekonomi. Kami berharap 'New Finds' bisa memunculkan seniman lokal dengan platform mengembangkan dan menetapkan karier di industri seni Singapura," kata Chen Shen Po, Direktur Pameran. New Finds adalah salah satu ruang khusus bagi seniman Singapura yang memang tengah mengalami krisis perupa. Ini bisa dilihat dengan minimnya karya perupa Singapura. Yang tampil masih karya pioneer lukis Singapura dengan gaya Nanyang-nya, Cheong Soo Pieng, diusung galeri Art-2 milik Charles Siow Hua Chiang. Satu lagi, karya pelukis muda Jensen yang hampir tiap tahun menjuarai kompetisi lukis di Singapura. "Sulit menjadi pelukis di Singapura. Biaya produksi mahal, ikut pameran mahal, sementara para kolektor Singapura lebih mengoleksi karya pelukis dari luar Singapura seperti China, Indonesia dan lain-lain," kata Jensen yang memamerkan karyanya di galeri miliknya Art Tree (dulunya Drawing Gallery). "Saya sempat menjadi guru untuk membiayai hidup sebelum akhirnya membuka galeri," ujarnya sambil menambahkan bahwa 90 persen pelukis Singapura menjadi pengajar.

Keprihatinan pemerhati dan perupa maupun pemerhati seni Singapura ini bisa disaksikan di pameran ini. Karya-karya perupa non-Singapura terlihat banyak diminati misalnya Ronald Venturea dari Filipina, Li Chen dari Taiwan, Ayako Rokkaku dari Jepang, Kim Dong Yoo dari Korea, dan yang membanggakan, karya-karya Richard Winkler dari Indonesia yang diusung Zola Zolu Gallery laris manis. 18 lukisan terjual dari 20, sementara 5 patung dibeli semua.

Saat ditemui di arena pameran, Richard mengatakan bahwa ia sendiri tidak menyangka lukisannya diminati. "Padahal lukisan saya kali ini berukuran besar (1,5 m x 2 m). Saya hanya membawa 20 lukisan dan 5 patung. Itu semua saya kerjakan sejak 3 tahun lalu. Tahun ini juga pertama kali saya memamerkan patung. Saya sudah lama ingin membuat patung. Nantinya saya juga akan membuat patung berukuran besar 1,8 meter."

Menurut Richard, salah satu kunci yang membuat karyanya diminati hanyalah jujur pada dirinya sendiri. Tidak kalah oleh pasar. "kalau kita memberikan jiwa kita dalam karya kita, pasti juga bisa dirasakan oleh siapa pun yang menikmatinya."

Mungkin Richard benar, tetapi tentu dukungan pihak galeri tetap diperlukan. Hingkie Prasantio, sosok di balik Zola Zolu gallery yang menerbangkan karya-karya Richard menambahkan, "Saya sudah mempersiapkan pameran ini 3 tahun lalu. Saya menyewa 3 booth khusus untuk Richard. Saya memang mencoba membuat konsep baru. Sebuah pameran tunggal pada artfair. Mengapa tidak? Toh sebenarnya tanpa diundang, pengunjung akan datang sendiri. Untuk itu kita memang harus percaya pada seniman yang kita dukung sehingga pada diri seniman itu juga muncul rasa percaya diri."

Soal harga yang dipatok lebih tinggi, Hingky menjelaskan,"Ya wajar, karena biaya pameran ini juga tinggi. Kalau mau murah ya silakan beli di Jakarta." Hendra Irawan, salah satu kolektor yang membeli patung Richard dan menyukai warna-warna pada lukisan Richard berpendapat, "Kalau soal harga, apalagi ajang pameran ini menampilkan karya-karyanya pilihan. Biasanya seniman menampilkan karya terbaik mereka jadi ini kesempatan baik juga untuk membeli."

Melihat sinergi yang tercipta antara seniman, galeri, dan kolektor seperti ini, rasanya dunia seni rupa Indonesia masih menjanjikan. Plus, ternyata kolektor negara lain seperti Singapura pun masih lebih melirik seniman kita dibandingkan seniman negaranya. Jadi tunggu apalagi? Enak toh, kalau seniman jujur pada dirinya untuk menghasilkan karya terbaik, galeri siap mendukung, pastilah kolektor tinggi mengapresiasi.

Saat ini, matahari terang bersinar di Jakarta, mendung tak tampak terlihat.(Dwi Sutarjantono.)



Please click the picture to view the actual article

Dari Cheong Soo Pieng Sampai Richard Winkler