Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Dari Dalam Jiwa

Bazaar Art Jakarta 2012
, Edition Oct 2012

Zola Zolu Galley kali ini kembali merepresentasikan dua seniman andalannya di Bazaar Art Jakarta 2012, Arifien Neif dan Richard Winkler, dengan tambahan seorang seninan besutannya, yaitu Chairul Sabarudin.

Oleh Hansel Mario

Setelah Arifien Neif dan Richard Winkler turut serta dalam penyelenggaraan Bazaar Art Jakarta selama tiga tahun berturut-turut, kini mereka kembali untuk yang keempat kalinya bersama dengan Chairul Sabarudin. Sebuah bukti dari Hingkie H.P, pemilik Zola Zolu Gallery, yang berjanji akan membawa satu seniman lagi di ajang tahun ini. Masing-masing seniman membawa karya terbaru mereka ke dalam area pameran Zola Zolu Gallery.

Arifien kecil lahir di Surabaya pada tahun 1955. Sejak kecil, ia suka menggambar meskipun ditentang oleh kedua orang tuanya. Sosok seniman yang memperoleh pengetahuan seni lukisnya dari maestro lukis Indonesia, S. Sudjojono dan Affandi, ini kerap kali mengunjungi AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya) untuk mengamati dari jauh, mencari ilham dari balik jendela ruang kuliah. Demikian pula saat ia beranjak ke LPKJ, Jakarta. Arifien sering berkumpul bersama Affandi, berdiskusi sembari menyeruput secangkir kopi. Kesulitan ekonomi membuatnya bekerja sebagai buruh bangunan demi membeli alat-alat lukis. Menurutnya, melukis menjadi sarana ekspresi diri serta menjadi sarana hiburan di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Mudah bergaul dan mempunyai banyak teman di kalangan arsitek, mempengaruhi ide dari garis dan warna yang terdapat pada banyak lukisan Arifien. Karyanya juga tidak lepas dari peranan budaya dan sejarah, dan ia mengaku kagum pada seniman besar seperti Henri Matisse, Marc Chagal, Paul Gauguin, dan Raoul Dufy.

Pengaruh Henri Matisse pada lukisannya terlihat dari latar belakang yang kerap menggambarkan suasana kota Paris. Sebelumnya ia pernah menetap di kota romantis tersebut selama enam bulan. Bentuk tubuh yang berisi yang diaplikasikan pada beberapa karyanya diperoleh dari Gauguin. Bagi Arifien, sosok manusia yang tampil menjadi diri sendiri adalah sosok yang paling indah. Dalam kehidupan sehari-hari, Arifien merupakan orang yang romantis, perfeksionis, mencintai alam, dan menghargai kehidupan. Hal itu sedikit banyak mencirikan sisi romantisme pada karya yang ia buat

Di sudut yang berbeda, Richard Winkler, seniman asal Swedia yang kini menetap di Bali sejak tahun 1997, memamerkan karyanya berupa lukisan dan patung. Menuntut studi desain grafis dan ilustrasi di Beckmans School of Design, Stockholm, Winkler pernah bekerja sebagai ilustrator untuk iklan dan majalah. Beberapa karya Winkler adalah adaptasi dari perayaan kehidupan serta kesuburan. Menggambarkan hubungan manusia dengan alam, berjuang dan berusaha mencari keseimbangan dan harmoni. Semua figur dan landscape yang dibuat dijelaskan dalam bentuk tubular nan sensual.

Semasa kecil, Winkler telah melewati cukup banyak rasa sakit karena melakukan banyak operasi penyakit tulang langka yang diidapnya. Sebuah penyakit yang mengganggu pertumbuhan tulang Winkler. "Jika tubuh Anda menderita, jiwa Anda masih harus berdiri kuat dan menemukan kedamaian," kiranya kalimat itulah yang menjadi prinsip Winkler dalam hidup, juga dalam melukis.

Perjalanan artistik Winkler selalu tentang mengekspresikan gairah pribadinya dan pengalaman melalui pekerjaan. Lewat lukisannya, ia menggambarkan bentuk manusia yang terlihat seperti memiliki kelainan tulang berwarna cerah. Gambar tanaman yang ia goreskan di atas kanvas merupakan hasil observasinya semasa kecil. Saat itu, ia sering diajak kakeknya berkeliling hutan sembari memetik buah blueberry. Selain lukisan, Richard Winkler juga merepresentasikan ide dalam bentuk patung. Bentuk lukisan yang ia ciptakan sebenarnya tidak jauh berbeda dari patung. Mematung seakan menjadi perkembangan alami bagi dirinya.

Kali ini Galeri Zola Zolu membawa satu lagi seniman yang ikut memajang karyanya pada Bazaar Art Jakarta 2012. Chairul Sabarudin lahir di kota Malang lebih dari empat dekade silam. Sejak kecil, seniman yang kerap disapa Iroel ini telah menyukai seni lukis. la mulai menggambar human stick pada tembok rumahnya semenjak sekolah dasar. Saat itu, dengan menggunakan skala, untuk menghasilkan garis dan kotak-kotak yang presisi, Iroel membuat gambar portrait pertamanya yang melukiskan wajah sang ayah tercinta. Dari situ ia dapat menghasilkan uang jajan sendiri, dan semasa sekolah menengah ia membantu temannya dengan menggambarkan duplikat wajah seseorang yang spesial. Tidak hanya di lingkungan sekolah, Iroel kemudian menawarkan karya lukisnya di depan bioskop Merdeka, Malang, hingga ke Pulau Dewata, Bali.

Iroel sendiri mengaku menggunakan media pensil mempunyai sensasi dan `greget' tersendiri. Objek yang biasa merebut ketertarikan hati Iroel adalah human interest. la percaya pada esensi semangat yang besar dalam perjuangan hidup. Selepas tahun 2006, Iroel sukses menggelar pameran di beberapa kota besar di Indonesia. Karya-karyanya pernah dipamerkan di kota-kota seperti Lampung, Malang, Surabaya, Jakarta, Bali, dan Solo. Penantian yang cukup lama akhirnya membuahkan hasil, banyak karyanya yang kini diburu oleh kolektor. Keunikan karya Iroel juga berhasil mencuri hati Zola Zolu Gallery untuk bekerja sama. Terinspirasi dari seniman Gustav Klimt dan Gabriel Moreno, karya Iroel kini menampilkan wajah-wajah baru penuh warna.



Please click the picture to view the actual article

Dari Dalam Jiwa Dari Dalam Jiwa Dari Dalam Jiwa
Dari Dalam Jiwa Dari Dalam Jiwa