Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Budaya Iklan di Atas Kanvas
KHAZANAH - Pikiran Rakyat, 22 Desember 2007
Perahu kertas dengan sekaleng ikan sarden di atasnya. Perahu kertas itu tidak bergerak, bayang-bayangnya muncul di permukaan air. Perahu itu terbuat dari guntingan koran dengan teks "Sajian Praktis" di lambungnya, dan gambar kapal layar yang sedang mengarungi lautan.

Kaleng ikan sarden yang ada di atas perahu kertas itu dengan mudah mengingatkan orang pada produk ikan sarden terkenal bercita rasa saus tomat. Merek iklan ikan sarden itu pun di plesetkan dengan merek "Adi". Kaleng ikan sarden itu terbuka dengan seekor ikan yang melompat masuk ke dalamnya dan membuat kuah saus tomat di dalamnya muncrat.

Diatas kanvas 145 x 200cm, dengan judul "Sajian Praktis", perahu kertas koran dan kaleng ikan sarden karya perupa muda Yogyajarta Nugroho Adi Prabowo itu terasa ingin merepresentasikan banyak ihwal di seputar relasi kebudayaan iklan (culture of advertising), media, dan gaya hidup.

Gambar kapal layar ditengah lautan pada kertas koran yang dijadikan perahu kertas seolah hendak membenturkan orang ketengah dua realitas yang berlainan, antara realitas media itu sendiri kedalam kebudayaan iklan. Teks "Sajian Praktis" di lambung perahu kertas realitasnya dinyatakan lewat sekaleng ikan sarden. Seekor ikan yang melompat masuk ke dalamnya, lagi-lagi ingin menjelaskan betapa media dan budaya iklan telah mengemas realitas dalam sebuah kaleng.

Laut yang luas dan kapal layar itu tak lebih hanya citra dalam media (koran), sedang realitas yang sesungguhnya telah terhidang dalam sebuah kaleng. Lewat karya yang akan di pamerkan dalam pameran tunggalnya di Sarah's Gallery Hong Kong 3 - 17 Februari 2008, Nugroho Adi Prabowo (Adi), seolah ingin bertutur bahwa pada akhirnya tak ada realitas apa pun dalam relasi antara media, kebudayaan iklan, dan gaya hidup, kecuali realitas yang telah menjadi kaleng.

Plesetan merek pada kaleng iklan ikan sarden menjadi merek "Adi" itu juga tak hanya berniat sebagai plesetan semata. Di situ, seolah hendak dikatakan bahwa dalam budaya iklan dan media sesungguhnya individu juga lenyap didalam kaleng. Ia hanya jadi penanda dari keberadaan yang direproduksi secara massal. Ia bukan lagi menjadi penanda dari seseorang, melainkan sesuatu yang ada di dalam kaleng.

Menatap "Sajian Praktis" dan sejumlah karya Adi yang lain, yang kuat meletakan konsentrasi tematiknya pada tabiat manusia dalam relasi budaya iklan dan media, segera kita tahu betapa gagasan kesadaran di dalamnya hendak menolak asumsi bahwa kebudayaan iklan tidaklah melulu berurusan dengan gejala dari suatu kemajuan ekonomi.

Diatas kanvas Adi, kebudayaan iklan tak bisa di lainkan dari modernitas. Bahkan dalam kebudayaan iklan modernitas merupakan tema persuasi sehingga mampu mengubah cara pandang orang terhadap realitas.

Disitu orang dirayu bukan melulu untuk mengkonsumsi tapi juga bagaimana hasrat itu muncul seiring dengan menjadi niscayanya hubungan pola konsumsi dan identitas kebudayaan. Meminjam penjelasan Celia Lury (1998), dalam keniscayaan hubungan itu orang menjadi responsif terhadap iklan karena iklan memberikan pembendaharaan kata bersama dan cara untuk menghubungkan diri dengan orang lain.

Visualisasi Iklan

Keniscayaan lain di dalamnya adalah media. Media telah menjadi ruang hayat bagi kebudayaan iklan. Dalam modernitas media tak hanya mengangkut realitas melainkan telah menjadi realitas itu sendiri. Media telah menjadi hegemoni baru yang mengurai manusia dari ikatan dan kesatuan primordialnya. Bahkan ternyata modernitas telah menjadi kesanggupan pada media bukan hanya untuk menjadi realitas, melainkan juga menghegemoninya dan menuntunnnya. Media disitu bukan lagi tiruan realitas, tapi telah menjadi sebuah kekuatan yang diimani.

Inilah misalnya, yang dihadirkan Adi dalam "dituntun dengan media". Di atas kanvas berukuran 145 x 200cm itu tampak seekor bebek besar terbuat dari kertas koran, berenang tenang dikelilingi sejumlah bebek. Di bagian sayap bebek koran itu tampak gambar para peternak bebek sedang mengurusi hewan piaraannya.

Di atas permukaan air yang tenang, bebek kertas koran itu disitu bukan lagi benda. Melainkan mahluk lain yang memimpin bebek - bebek lain di sekelilingnya. Modernitas disitu hendak di sebut sebagai ruang hidup ketika manusia hanya bisa membebek pada media.

Kertas koran sebagai representasi media, di atas kanvas Adi itu, seolah merupakan terjemahan visual dari apa yang ditafsir oleh Haryatmoko (2007) ketika ia menyitir J.M Ferry ihwal kekuatan media dalam mengubah intergrasi sosial dan melakukan reproduksi budaya. Dikatakan, media menyebarkan ke seluruh tubuh sosial tidak hanya ide pembebasan, tapi juga nilai-nilai hedonis yang akhirnya memengaruhi integrasi sosial.

Dalam "Dituntun Dengan Media", Adi menyuguhkan kenyataan bahwa integritas sosial itu masih ada. Namun itu hanyalah integritas sosial yang tak memiliki otonominya sebagai integritas sosial alam manusia. Integritas sosial itu tak lebih dari integritas sosial para bebek. Meski itu di ungkapkan sebagai metafora yang kasar, namun dalam visualisasinya, para bebek diatas kanvas Adi terhidang begitu manis. Dan justru inilah yang membuat semakin ironis.

Tabiat manusia di tengah media dan budaya iklan memang menjadi gagasan kesadaran dalam sejumlah karya perupa kelahiran Yogjakarta tahun 1974 ini. Dunia dan tabiat hewan, seperti tampak dalam "Dituntun Dengan Media" selalu menjadi metafora untuk merepresentasikan tabiat tersebut. Dalam "Tergiur" ia mengambil perilaku monyet yang menatap rakus ke arah iklan pisang yang menutupi sangkar seekor burung, padahal monyet itu sedang menggenggam sesisir pisang.

Budaya iklan dan media memang telah meniadakan batas antara realitas media dan realitas sebenarnya. Pisang dalam iklan dan pisang dalam genggaman dalam karya itu telah dikaburkan sebagai realitas yang berbeda. Dan manusia, entah mengapa, selalu terpesona oleh sajian realitas iklan dalam media.

Sebagai pelukis, Adi mengekplorasi gagasan ihwal budaya iklan dan media tersebut lewat pendekatan bentuk seperti halnya poster dan reklame yang dialihkan ke bidang kanvas. Memanfaatkan bekal pendidikan di Modern School of Design jurusan Fotografi Yogyakarta, kanvas pelukis yang sempat meraih penghargaan YSRI Philip Morris Indonesia Art World tahun 1996 menyuguhkan teknik dan stlye ungkapan yang khas.

Dengan cermat ia memindahkan karakter visual poster iklan atau reklame ke atas kanvas dengan teknik sapuan dan olahan warna yang lembut, sehingga nyaris tak di temukan barik dan tekstur di permukaanya. Objek dengan detailnya digarap dengan perhitungan dan komposisi pewarnaan yang manis bahkan pada beberapa karya terasa terlalu manis. Ini agaknya strategi estetis untuk berkorelasi dengan nafas tematik dan gagasan yang di usungnya, yakni memvisualisasikan iklan ke atas kanvas dengan pandangan sikap pandangan didalamnya. (Ahda Imran)

"Sajian Praktis" salah satu karya perupa Yogya, Nugroho Adi Prabowo yang akan di pamerkan dalam pameran tunggal di Sarah's Gallery Hongkong 3-17 Februari 2008 mendatang.


Please click the picture to view the actual article

Budaya Iklan di Atas Kanvas