Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Antara Richard Winkler, Lukisan & Patungnya
Harper's Bazaar Indonesia, Oktober 2009

Karya-karyanya adalah cerminan hidupnya yang sederhana.

Richard Winkler masih seperti dulu. Agak sedikit gemuk. Tetapi dengan wajah yang kalem, kaca mata berbingkai hitam yang nangkring di hidungnya, ia tak banyak berubah. Masih terlihat sopan dan santun, seperti ketika bertemu dengannya 6 tahun yang lalu. Tutur katanya pun masih lembut tapi bertenaga ketika ia menjelaskan, "Saya baru menyelesaikan 20 lukisan besar, berukuran 150cm x 200cm, yang akan dipamerkan di Art Singapore Oktober ini," kata pelukis kelahiran Norrkoping, Swedia saat ditemui di stand Zola Zolu Gallery pada acara Bazar Art Jakarta Indonesian Art Festival 2009 beberapa waktu lalu.

Kelembutan dan kesantunan itulah yang pada akhirnya kita tangkap melalui karyanya. Karya-karya berupa lukisan dan kini patung yang menyajikan orkestrasi harmoni antara jiwa dan kepribadian seniman yang belajar seni visual di Nyckelviken School of Arts serta seni murni/desain grafis di Beckmans School of Design, dengan alat musiknya berupa kuas, kanvas, warna-warni cat, tanah liat dan perunggu untuk menjadikan figur dalam lukisannya lebih hidup. "Sejak tahun lalu saya mulai mematung. Seri pertama yang terdiri dari 5 patung baru saja selesai dalam media perunggu (dipamerkan di Bazaar Art Jakarta). Patung-patung ini juga dipamerkan di Art Singapore tahun ini," ujar seniman yang memang sudah sejak dulu terobsesi dengan tubuh manusia.

Kenapa mematung? "Dalam mematung perlu kerja yang lebih fisikal. Saya berkeringat, tangan saya terluka dan berdarah. Dalam mematung saya bekerja lebih keras dengan menggunakan tubuh saya dan menggunakan lebih banyak indera saya pada saat saya merasakan bentuk dari patung saya melalui tangan dan kulit saya," kata Richard sambil bercerita ingin membuat patung yang lebih besar dan bentukan yang lebih kompleks lagi misalnya saling tumpang-tindih atau melilit satu sama lain.

Melihat patung apalagi lukisan Richard, kita seakan dihisap ke dalam geliat bentuk tubuh manusia yang menjadi semacam panduan untuk masuk ke dunia impiannya. Alam harmoni, alam kesempurnaan. Di mana lagi kita bisa menemukan alam tanpa noda yang isinya warna-warni tanpa cacat? Kapan lagi kita bisa mencicipi berbagai buah menggiurkan yang bukan du fruit defendu seperti yang dimakan Adam hingga harus dibuang ke alam nyata yang tak pernah harmonis ini? Hanya dengan menatap dalam-dalam ke lukisan Richard-lah kita antara lain bisa lepas dari berbagai masalah duniawi yang tak pernah henti mendera hati.

Ingin rasanya memiliki tubuh indah tanpa cacat (bahkan tubuh-tubuh "Richard" tak memiliki siku tajam yang mungkin simbolisme dari ketakharmonisan) meliuk gemulai dengan berbagai komposisi saling silang atau senyap sendiri sehingga siapa pun yang menatapnya akan bisa ikut merayakan ketenangan. Dengan segala kesederhanaannya, Richard yang pernah menjadi ilustrator majalah, advertising dan televisi ini berujar, "Saya mencoba melihat keindahan dalam hidup, dan mencoba untuk menemukan keseimbangan dengan memberikan kedamaian dan harmoni di dalam jiwa dan raga saya."

Sederhana bukan? Suami dari Regina ini (wanita Indonesia yang secara sederhana sudah 'dipilih' Richard sejak bersahabat pena antarnegara sewaktu SMP) hanya ingin berkontemplasi. Bahkan bukan untuk tujuan lain. Ketulusan hatinyalah yang membuat karya-karyanya memiliki jiwa dan memancarkan kedamaian bagi siapa saja yang melihat objek lukisannya yang berwarna kromatis dan terang. Jadi tak perlu kita bertanya buah apa yang diambil petani itu, kok warnanya ungu? atau di Balikah gunung yang berwarna merah itu? Pasti itu pengaruh Bali karena suasana lansekapnya pun mirip yang digambarkan Walter Spies. Richard hanya bilang, "Saya telah tinggal selama 12 tahun di Bali. Adalah sangat aneh apabila saya mengatakan tidak ada pengaruh tersebut."

Pengaruh adat dan budaya dari pulau yang dianggap sebagai God Island ini juga membantunya melukis dan berkesenian. Seperti layaknya seniman Bali asli, yang sudah mampu melumat seni dan spiritualitas menjadi satu nafas. Ayah dua anak yang tinggal di Sanur ini berucap, "Dunia seni adalah suatu kebutuhan untuk saya. Sesuatu yang harus saya lakukan, seperti halnya bernapas, makan dan tidur. Dalam hidup saya, tanpa seni, hidup terasa kosong." (Selain bernapas, makan, tidur dan berkesenian, Richard juga mengantar jemput anaknya ke sekolah.)

Memang, kalau bicara soal bentuk, pewarnaan, tema dan lain-lainnya tak banyak yang berubah dari karya-karya sebelumnya. Meski tak banyak, bukan berarti tak ada yang berubah. Kalau kita perhatikan, kesederhanaannya terlihat makin mengental. Perhatikan saja figur yang makin abstrak, reflektif, seperti wajah yang tak muncul. Tetapi justru inilah bahasa paling tepat untuk menjelaskan alam imajinasinya. Toh kita tak perlu tahu ekspresi wajah figur lukisannya karena di alam itu semua orang diselimuti perasaan yang sama: damai. Meskipun Richard sendiri masih berusaha membedakannya figurnya dengan berkata, "Ini wanita. Filosofi saya adalah merayakan hidup dan kesuburan, keindahan serta kekuatan yang luar biasa dari wanita. Hidup diciptakan dalam wanita, dan wanita melahirkan dan memberikan hidup baru. Suatu proses yang luar biasa dan indah. Dalam segala situasi dalam hidup kita harus mencari untuk dapat mengidentifikasi sisi hidup yang baik, bercahaya dan indah."

Ya, pada dasarnya hidup memang sebuah pencarian. Pencarian akan keindahan dan ketenangan hidup. Inilah mungkin yang membuat aku (baca: kita) selalu rindu untuk kembali bertemu dan bercakap dengan Richard (yang waktunya tak lagi banyak karena karyanya makin ditunggu). Rindu menatap lukisannya, kangen dengan kelembutan, kesantunan, dan harmoni yang tergores di kanvas, dan kini kian terpatri pada patung perunggunya. (Dwi Sutarjantono)



Please click the picture to view the actual article

Antara Richard Winkler, Lukisan & Patungnya