Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Anak Diatas Kanvas
KHAZANAH - Pikiran Rakyat, 19 July 2008
Dua orang anak lelaki duduk berhadapan. Mereka sedang sama berfikir dalam permainan damdas (damdam-an). Sejenis permainan asah otak yang menggunakan batu - batu kecil sebagai bidaknya, di atas bangunan garis lurus dan saling bersilangan. Seperti catur, permainan asah otak khas anak-anak yang sudah langka ini, ditentukan banyaknya bidak lawan yang dimakan dengan cara dilangkahi sehingga bisa menguasai bidang atau daerah permainan lawan. Mereka saling menyerang dan saling bertahan. Inilah yang dilakukan kedua anak itu.

Salah seorang tampak sedang bersila dan berfikir keras sambil bertopang dagu, memerhatikan kawannya yang sedang memindahkan sebuah bidak. Keduanya berada dalam momen yang menegangkan. Satu bergerak, satu lagi mengawasi hendak kemana gerak bidak lawannya. Batu - batu diatara bangun garis putih lurus bagi kedua anak lelaki yang sedang bertarung itu tentu bukan sekedar batu. Batu - batu telah menjadi representasi dari diri mereka. Hasrat untuk mengalahkan dan upaya untuk bertahan.

Di atas kanvas, kedua anak itu duduk berhadapan di ruang ilusif. Meski tubuh mereka masih terkesan berada dalam tarikan gravitasi, sapuan lembut di seluruh bidang kanvas membuat sensasi visual yang mengesankan tubuh mereka melayang. Terlebih lagi, tubuh tonyraka exhibitionmereka berdua dikelilingi oleh batu - batu dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna. Batu -batu itu seolah terapung - apung di sekeliling mereka. Menjadi bagian dari bidak - bidak batu dalam permainan, muncul dari alam pikiran dan fantasi kedua anak itu.

Warna - warna batu yang melayang dan tampak terapung - apung itu akhirnya menjadi keindahan tersendiri di antara kedua anak lelaki yang sedang bertarung tersebut. Ruang keduanya mendadak menjadi hujan batu dalam citraan yang imagis. Citran yang melenyapkan ketegangan dalam momen pertarungan permainan yang menentukan kalah dan menang. Batu - batu dengan warna - warni yang lembut diantara mereka membuat permainan itu tak lagi tampak menegangkan. Sebaliknya, bidak - bidak batu itu seolah telah bermetamorfosis ke dalam alam fantasi kanak - kanak yang tetap menyenangkan meski di dalamnya terdapat pertarungan kalah menang.

Alam permainan dunia kanak yang imajis inilah yang dihamparkan oleh pelukis Ahmad Su’udi dalam karyanya bertajuk “Bermain Damdas”. Satu dari sejumlah karyanya yang akan dipamerkan dalam pameran tunggalnya di Drawing Gallery Singapore, 22 Juli - 14 Agustus 2008. Pelukis yang pernah mengenyam pendidikan Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memang senantiasa menjadikan anak dan dunia kanak sebagai figur dalam banyak karyanya.

Seperti terasa dalam “Bermain Damdas”, di atas kanvas Su’u, anak sebagai figur dan dunia kanak itu sendiri lebur ke dalam panorama atau citraan imajis khas dunia kanak. Panorama yang penuh keindahan dan kemurnian meski dalam sebuah momentum permainan yang menyiratkan persaingan dan ketegangan. Bagi alam dan dunia kanak, persaingan dalam permainan tetaplah menjadi keindahan tersendiri ketimbang menjadi kengerian. **

Mengekplorasi dunia kanak inilah yang dilakukan Su’udi lewat imaji - imaji visual yang berkonsentrasi pada keindahan, terutama pada olahan figur dan pewarnaan. Anak sebagai figur dalam karya - karya Su’udi senantiasa hadir dalam sosoknya yang bersih dan licin, seolah kenyataan anatomi itu merupakan presentasi dari kemurnian jiwa kanak - kanak. Bahkan untuk sejumlah karyanya yang menampilkan anak - anak jalanan di Jakarta pun, di atas kanvas Su’udi, anak - anak itu jauh dari sosok - sosoknya yang kumuh, kotor, dan matanya yang liar.

Sebaliknya, mereka, anak - anak itu tetaplah tampak sebagai makhluk - makhluk yang manis seperti terasa benar dalam “Play on the Wall”. Di situ sejumlah anak sedang bermain di atas tembok yang tampak sudah mengelupas dengan latar belakang Monas dan gedung - gedung pencakar langit Kota Jakarta. Dari penampilan pakaian mereka, bahkan di antaranya bertelanjang dada, anak - anak itu berasal dari kalangan bawah. Tembok tempat mereka bermaian seolah menjadi penegas batas sosial antara mereka dan Kota Jakarta yang megah.

Tapi di atas kanvas Su’udi, lagi - lagi dunia kanak adalah dunia yang diliputi keriangan. Salah seorang di antara mereka tampak sedang bermain merpati, seolah menjadi metafora dari kebebasan dunia kanak yang tak bisa dikungkung oleh kemiskinan. Alih - alih tubuh anak - anak itu terlihat kotor sebagai anak jalanan, bagi Su’udi anak - anak itu tetap bersih dengan sorot mata bulat yang berkilatan. Dan Jakarta sebagai latar, dengan Monas dan gedung - gedung pencakar langit, di atas kanvas Su’udi bukanlah dunia yang menyeramkan. Seakan - akan meminjam mata anak - anak itu, Monas dan gedung - gedung tersebut tampak berdiri tegak dengan warna - warni yang lembut (soft), hijau dan merah.

Demikian pula dengan kehidupan jalanan dan anak jalanan di Jakarta. Seluruhnya tampak bersih, riang, dan menyenangkan. Dalam “The Jakarta’s Reflection”, misalnya, yang menghadirkan seorang anak lelaki yang sedang mengamen di tengah kemacetan. Karya ini menarik karena Su’udi mengambil sudut pandang (angle) dari pantulan sebuah kendaraan. Pantulan kendaraan itu menampilkan tubuh anak pengamen dan suasana jalanan. Wajah anak pengamen yang sedang menyanyi dengan alat musik bekas tutup botol itu tampil dari kaca pintu mobil yang setengah terbuka, dan menjulurkan selembar uang ribuan.

Pada karya ini, terasa benar kefasihan Su’udi mengeksplorasi unsur kebentukan. Sapuan yang lembut pada bidang kanvas tetap meninggalkan jejak pengerjaannya yang serbamanual. Bagi pelukis yang pada tahun 1997 - 1998 suntuk membuat cerita bergambar anak - anak di sejumlah media di Jakarta ini, detail objek dan figur tampak menjadi amat perhitungan, termasuk komposisi pencahayaan. Namun, di atas semua itu, seluruh unsur kebentukan yang ditampilkan Su’udi tetaplah terasa menyimpan keinginannya yang besar untuk menampilkan figur anak - anak dalam kemurniannya, seperti banyak ditampilkannya dalam sejumlah karya yang dipamerkannya di Singapura, Malaysia, dan Hong Kong sejak 1999 (Ahda Imran)***


Please click the picture to view the actual article

Anak Diatas Kanvas